Profesi Jurnalis, Menyusuri Kota Dan Desa Demi Cerita Yang Tak Terdengar
Probolinggo, Radarpatroli
Pekerjaan sebagai seorang kuli sering kali dipandang sebelah mata. Banyak yang menganggapnya rendahan, pekerjaan yang hanya layak bagi mereka yang tak punya pilihan lain. Namun, bagi saya, istilah “kuli” justru memiliki kebanggaan tersendiri. Karena sesungguhnya, saya juga seorang kuli, yaitu kuli tinta. Seorang jurnalis yang memanggul beban kata, menggali fakta, dan memikul amanah kebenaran.

Setiap hari, saya menyusuri lorong-lorong kota, gang-gang sempit perkampungan, hingga jalanan berlumpur pedesaan. Senjata saya bukan cangkul atau palu, melainkan kamera yang siap menangkap setiap detik kejadian. Di balik setiap langkah, ada pencarian tanpa henti untuk menemukan cerita yang layak dibawa ke permukaan. Cerita yang mungkin sengaja disembunyikan, cerita yang mungkin selama ini tak pernah didengar, atau cerita yang justru menunggu seseorang yang berani menuliskannya.
Ada kalanya saya harus berhadapan dengan tatapan sinis, pintu-pintu yang ditutup keras, hingga ancaman samar dari mereka yang takut pada kebenaran. Dunia jurnalistik tidak selalu ramah. Ada badai tekanan, ada bayang-bayang intimidasi, ada risiko yang tak terlihat namun selalu mengintai. Namun justru dari situlah saya menemukan makna menjadi kuli tinta bekerja tanpa pamrih, memeras tenaga dan pikiran demi menghadirkan informasi yang jujur kepada masyarakat.
Saya bersyukur diberi kesempatan untuk menjadi penjaga kebenaran. Dalam setiap berita yang saya tulis, ada dedikasi untuk membongkar tirai gelap yang menutupi fakta. Dalam setiap paragraf yang saya rangkai, saya mencoba memberi suara kepada mereka yang selama ini hidup dalam diamereka yang tertindas, terpinggirkan, atau tak diberi ruang untuk bersuara. Tulisan saya mungkin tidak selalu mengubah dunia, tetapi ketika satu orang pembaca tersentuh, tercerahkan, atau bahkan berani mengambil sikap, saya merasa perjuangan itu tidak sia-sia.
Bekerja sebagai kuli tinta bukan hanya tentang menulis berita. Ini tentang menyerap denyut nadi masyarakat, mengamati perubahan yang terjadi, dan menjadi jembatan antara rakyat dan realitas. Ini tentang memahami bahwa kebenaran tidak selalu nyaman, tidak selalu aman, tetapi selalu diperlukan.
Jadi meskipun saya bekerja sebagai kuli kuli tinta saya mengangkat kepala dengan bangga. Karena bagi saya, profesi ini bukan sekadar pekerjaan untuk mengisi perut atau menutup kebutuhan hidup. Ini adalah panggilan jiwa, sebuah misi untuk menghadirkan cahaya di tengah gelapnya informasi yang menyesatkan. Menjadi jurnalis adalah cara saya berkontribusi pada dunia: mencatat sejarah, menjaga demokrasi, dan menyalakan api kebenaran, satu tulisan pada satu waktu.
Penulis : Sayful
Editor : Yuris
