Dorong Pertanian Ramah Lingkungan, Gapoktan Karang Makmur Dapat Pelatihan Pestina

0
IMG-20251225-WA0009
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli 

Sebagai langkah preventif menghadapi serangan hama dan penyakit tanaman, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karang Makmur Desa Pajarakan Kulon, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, mendapatkan pelatihan pembuatan pestisida nabati berbahan alami, Rabu (24/12/2025).

Pelatihan ini dilaksanakan dalam rangkaian pertemuan rutin bulanan Gapoktan Karang Makmur dan menjadi bagian dari upaya mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan serta berkelanjutan di tingkat petani. Melalui kegiatan ini, para petani dibekali pengetahuan dan keterampilan praktis untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah diperoleh di sekitar lingkungan, berbiaya murah, serta aman bagi kesehatan dan ekosistem pertanian.

Kegiatan pelatihan tersebut menghadirkan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) BBPPTP Surabaya, Ika Ratmawati, sebagai narasumber utama. Pelatihan ini juga diikuti oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pajarakan, serta seluruh anggota Gapoktan Karang Makmur yang tampak antusias mengikuti setiap sesi kegiatan.

Dalam pemaparannya, Ika Ratmawati menjelaskan bahwa pestisida nabati merupakan salah satu alternatif pengendalian hama yang aman, efektif, dan berkelanjutan. Penggunaan pestisida berbahan alami dinilai mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia sintetis yang selama ini digunakan secara masif di lapangan.

“Pestisida nabati merupakan pilihan yang tepat bagi petani yang ingin menjaga kelestarian lingkungan pertanian. Bahan-bahannya berasal dari alam, mudah terurai, serta tidak berbahaya bagi manusia, ternak, maupun organisme lain di sekitar lahan pertanian,” jelasnya.

Menurut Ika, penggunaan pestisida kimia secara berlebihan dalam jangka panjang justru dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari pencemaran lingkungan, resistensi hama, hingga terganggunya keseimbangan agroekosistem. Hal tersebut terutama berpengaruh terhadap keberadaan musuh alami hama yang memiliki peran penting dalam mengendalikan populasi OPT secara alami.

“Penggunaan pestisida kimia yang tidak bijak dapat mengancam keberadaan musuh alami. Padahal, keberadaan musuh alami merupakan indikator agroekosistem yang seimbang. Karena itu, petani perlu mulai membiasakan diri menggunakan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan, salah satunya dengan pestisida nabati,” imbuhnya.

Pada sesi praktik lapangan, Ika Ratmawati memandu secara langsung proses pembuatan pestisida nabati dengan kapasitas 20 liter. Para petani diajak mengenal bahan-bahan utama yang digunakan, di antaranya daun mimba sebanyak 500 gram, daun sirsak 500 gram, batang serai 500 gram, daun tembakau 500 gram, serta bawang putih sebanyak empat dompol. Seluruh bahan tersebut ditumbuk hingga halus, kemudian direbus sampai mendidih dan didiamkan semalaman agar kandungan zat aktifnya terekstraksi secara optimal.

Larutan hasil rebusan tersebut selanjutnya disaring dan siap digunakan pada keesokan harinya dengan dosis aplikasi sekitar 500 mililiter per tangki semprot. Para petani juga diberikan penjelasan mengenai waktu aplikasi yang tepat, cara penyimpanan larutan, serta jenis hama sasaran yang dapat dikendalikan menggunakan pestisida nabati tersebut.

Ketua Gapoktan Karang Makmur, Ahmad Safari, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan tersebut. Ia menilai materi yang diberikan sangat relevan dengan kondisi di lapangan dan mudah dipraktikkan oleh para petani.

“Pelatihan ini sangat membantu petani. Selain caranya mudah dipahami, bahan-bahannya juga tersedia di sekitar kita. Selama ini penggunaan pestisida sintetis sudah cukup berlebihan, sementara biaya sarana produksi juga semakin mahal,” ungkapnya.

Ahmad Safari berharap, melalui pelatihan ini, anggota Gapoktan Karang Makmur dapat mulai mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia dan beralih secara bertahap ke metode pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan, sekaligus menekan biaya produksi pertanian.

Sementara itu, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pajarakan, Priyo Basuki, menilai penggunaan pestisida nabati tidak hanya memberikan dampak positif bagi lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomis bagi petani. Menurutnya, penerapan teknologi sederhana berbasis bahan lokal seperti ini dapat menjadi solusi di tengah meningkatnya harga input pertanian.

“Pestisida nabati bukan hanya solusi ekologis, tetapi juga ekonomis. Ini saat yang tepat bagi petani untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis. Praktik seperti ini sangat baik jika diperluas ke wilayah lain sebagai upaya pengendalian hama yang tidak merusak agroekosistem,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Pajarakan Kulon, Zulaichah Kusumawardhani. Ia berharap ilmu dan keterampilan yang diperoleh petani dalam pelatihan ini benar-benar diterapkan secara konsisten dalam kegiatan budidaya sehari-hari.

“Kami berharap petani dapat menerapkan pestisida nabati ini secara berkelanjutan, sehingga biaya produksi dapat ditekan, hasil pertanian tetap optimal, dan lingkungan pertanian tetap terjaga. Ini merupakan langkah preventif menuju pertanian yang lestari dan selaras dengan alam,” pungkasnya.

Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!