BPBD Kabupaten Probolinggo Bergerak Cepat Tangani Dampak Cuaca Ekstrem Di Enam Kecamatan

0
WhatsApp-Image-2026-02-21-at-13.23.13-1200x630
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli 

Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Probolinggo pada Jum’at (20/2/2026) membawa dampak cukup luas di sejumlah kecamatan. Hujan dengan intensitas ringan hingga deras yang disertai angin kencang terjadi sejak pukul 15.00 hingga 21.00 WIB, memicu berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kebakaran rumah hingga jembatan penghubung antar desa yang terputus.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Probolinggo langsung bergerak cepat begitu menerima laporan dari masyarakat dan pemerintah desa. Melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) dan Tim Reaksi Cepat (TRC), personel diterjunkan ke sejumlah titik terdampak untuk melakukan asesmen, evakuasi ringan serta pendataan kerusakan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, memastikan bahwa seluruh kejadian telah ditangani secara bertahap dan tidak menimbulkan korban jiwa.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dalam rangkaian kejadian cuaca ekstrem ini. Kami langsung mengerahkan Pusdalops dan Tim Reaksi Cepat untuk melakukan asesmen serta penanganan di lapangan. Prioritas kami adalah keselamatan warga dan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi,” ujarnya.

Berdasarkan data BPBD, dampak bencana tersebar di enam kecamatan yakni Sumberasih, Tiris, Gading, Pakuniran, Krucil dan Besuk.

Di Kecamatan Sumberasih, banjir genangan terjadi di Desa Lemahkembar Dusun Bibis, Desa Jangur dan Desa Sumberbendo. Air sempat masuk ke sejumlah rumah warga akibat saluran drainase yang tidak mampu menampung debit air hujan. Meski demikian, genangan berangsur surut beberapa jam kemudian setelah hujan mereda dan dilakukan pembersihan saluran oleh warga bersama aparat.

Di Kecamatan Tiris, tanah longsor menjadi dampak paling dominan. Longsoran tanah menimpa sebuah warung warga dan rumah di Dusun Sumber Kapung Desa Andungbiru. Selain itu, material longsor menutup sebagian akses jalan di Desa Ranugedang dan Andungbiru sehingga sempat menghambat aktivitas warga. Petugas bersama masyarakat melakukan pembersihan material menggunakan alat manual sambil menunggu dukungan alat berat dari instansi terkait. Di wilayah ini juga terjadi kebakaran tiga rumah di Desa Tegalwatu serta satu rumah tersambar petir di Desa Ranugedang, yang mengakibatkan kerugian material cukup besar bagi pemiliknya.

Sementara itu, angin puting beliung menerjang Dusun Bataan Desa Kertosono, Kecamatan Gading. Sedikitnya lima rumah mengalami kerusakan sedang pada bagian atap dan rangka bangunan, sedangkan empat rumah lainnya mengalami kerusakan ringan. BPBD bersama aparat desa langsung membantu pemasangan terpal darurat untuk melindungi rumah warga dari potensi hujan susulan.

Di Kecamatan Pakuniran, dampak yang cukup signifikan terjadi akibat terputusnya jembatan penghubung antara Desa Blimbing dan Desa Kalidandan. Putusnya jembatan tersebut membuat sekitar 100 kepala keluarga sempat terisolasi dan kesulitan mengakses jalur utama. BPBD segera melakukan koordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis untuk percepatan penanganan dan mencari solusi akses sementara bagi warga.

Di Kecamatan Krucil, longsor terjadi di empat titik ruas jalan Manggisan–Krucil. Selain mengganggu arus lalu lintas, longsor juga menimpa tembok serta dinding rumah warga di beberapa lokasi. Sedangkan di Kecamatan Besuk, satu rumah warga di Desa Sindetlami dilaporkan roboh pada dini hari akibat terpaan angin kencang dan kondisi tanah yang labil.

Oemar menjelaskan bahwa sejak awal kejadian, BPBD telah menjalin koordinasi intensif dengan camat, pemerintah desa, TNI-Polri, puskesmas, relawan kebencanaan hingga masyarakat setempat. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan cepat, terukur dan tepat sasaran.

“Kami melakukan asesmen lapangan bersama unsur terkait dan segera mendistribusikan logistik bagi warga terdampak. Untuk infrastruktur yang rusak seperti jembatan di Kecamatan Pakuniran, koordinasi dengan OPD teknis sudah dilakukan agar penanganan bisa segera dilaksanakan. Kami juga terus memantau perkembangan cuaca,” tegasnya.

Selain penanganan darurat, BPBD juga mengedukasi masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi bencana susulan. Mengingat kondisi cuaca yang masih berpotensi ekstrem, warga diimbau untuk memperhatikan tanda-tanda alam seperti munculnya retakan tanah, peningkatan debit air sungai, pohon yang mulai miring, maupun angin kencang yang terjadi secara tiba-tiba.

“Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko. Kami siap siaga 24 jam menerima laporan dan melakukan penanganan. Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat pula langkah mitigasi bisa dilakukan,” pungkas Oemar.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah, aparat, relawan dan masyarakat, diharapkan seluruh dampak cuaca ekstrem dapat tertangani dengan baik serta aktivitas warga dapat kembali normal dalam waktu dekat.

Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!