Penghargaan WBTB 2025, Momentum Kebangkitan Budaya Kota Probolinggo
Malang, Radarpatroli
Suasana hangat Festival Takjil Ramadan di Taman Krida Budaya, Minggu (22/2), menjadi momen membanggakan bagi Kota Probolinggo. Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Probolinggo, Dokter Aminuddin, menerima langsung Sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia Tahun 2025 yang diserahkan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bersama 45 kepala daerah lainnya se-Jawa Timur.
Ke-46 WBTB tersebut meliputi berbagai ekspresi budaya, seni pertunjukan, tradisi, dan kuliner khas dari kabupaten/kota di Jawa Timur, antara lain Batik Ghentongan Tanjung Bumi (Kabupaten Bangkalan), Angklung Banyuwangi (Kabupaten Banyuwangi), Oklik (Kabupaten Bojonegoro).
Lebih lanjut, Kupat Keteg (Kabupaten Gresik), Sego Boran (Kabupaten Lamongan), Labuhan Sarangan (Kabupaten Magetan), Bantengan Lereng Semeru (Kabupaten Malang), Wayang Krucil Sriguwak (Kabupaten Ngawi), Kaweng Tengger (Kabupaten Pasuruan), Tari Gambuh Sumenep (Kabupaten Sumenep).
Kemudian juga ada Batik Tenun Gedhog Tuban (Kabupaten Tuban), Jaranan Sentherewe (Kabupaten Tulungagung), Seni Sanduk (Kota Batu), Tahu Takwa (Kota Kediri), Ketan Kratok dan Tradisi Bi Bi Bi (Kota Probolinggo), hingga Lontong Balap (Kota Surabaya).
“Sertifikat dari Ibu Gubernur melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Timur untuk Warisan Budaya Takbenda berupa makanan khas kita, ketan kratok. Kemudian kegiatan mendekati Idul Fitri ya, Bi Bi Bi yang kalau tidak salah tradisi dilakukan tanggal 25 Ramadan,” tutur Wali Kota Dokter Aminuddin, saat ditemui di kantornya, Senin (23/2).
Ia menuturkan, tradisi Bi Bi Bi ini bentuk perhatian kepada anak-anak dan pemberian sesuatu yang membuat mereka bahagia menghadapi lebaran. “Nanti akan kita laksanakan bersama ya di suatu acara,” tuturnya antusias.
Sebagai bentuk pelestarian budaya berupa makanan khas Ketan Kratok, lanjut Dokter Amin, sebetulnya sudah dimulai oleh Pemerintah Kota Probolinggo. Saat ini pun sedang dikembangkan variannya yang lebih variatif dari bentuk dan porsinya. “Dengan bentuk variatif bisa jadi oleh-oleh produk khas kita,” imbuhnya.
Dari pertemuan di Malang, Gubernur Khofifah menegaskan pemerintah daerah diminta terus mengembangkan potensi yang ada di wilayahnya masing-masing. Tidak hanya gubernur, apa yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam taklimatnya, kata Wali Kota Dokter Amin, akronim BERSOLEK sudah masuk di dalamnya.
“O dari BERSOLEK adalah original. Budaya kita adalah original. Jadi, dengan BERSOLEK kita sudah ikut melestarikan budaya. Seperti kegiatan-kegiatan yang kita lakukan ada Batik In Motion, festival film, kerapan kambing, kerapan sapi brujul, tarian, musik dug-dug hingga makanan. Potensi kita kembangkan melalui O, original (dari akronim) BERSOLEK,” jelas wali kota.
Gubernur Khofifah menyatakan, penetapan WBTB bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan amanah untuk memastikan praktik budaya tersebut tetap lestari, berkembang, dan diwariskan kepada generasi penerus.
“Warisan budaya harus terus tumbuh dan memberi manfaat sosial serta ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, budaya menjadi identitas sekaligus kekuatan pembangunan Jawa Timur,” tegasnya.
Kini, Kota Probolinggo punya lima WBTB yaitu Seni Tari Jaran Bodhag (2014), Kerapan Sapi Brujul (2019), Kembang Lamaran (2023), ditambah Ketan Kratok dan Tradisi Bi Bi Bi di tahun 2025.
Reporter : Sayful
Sumber Berita : Kominfo Kota
