Dari Multi Grade ke Multi Layanan, Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Perluas Makna Pendidikan

0
IMG-20260228-WA0004
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan inovasi pendidikan yang kini berkembang dari konsep multi grade (kelas rangkap) menjadi multi layanan (multi service).

Dukungan tersebut disampaikan oleh Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono dalam workshop penguatan kapasitas ekosistem pengasuhan anak yang digelar oleh Disdikdaya Kabupaten Probolinggo bersama Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) di ruang PRIC Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Probolinggo, Jum’at (27/2/2026).

Hary menyampaikan Kabupaten Probolinggo dipercaya sebagai pilot project program tersebut di tingkat nasional. Kepercayaan ini menjadi motivasi untuk terus menyempurnakan model layanan pendidikan.

“Alhamdulillah, Pemerintah Daerah untuk kegiatan tim INOVASI ini sangat support. Kebetulan Kabupaten Probolinggo dijadikan pilot project di seluruh Indonesia,” katanya.

Menurut Hary, program multi grade telah berjalan dan bahkan menjadi rujukan sejumlah daerah lain. Beberapa wilayah melakukan studi tiru untuk melihat langsung implementasinya di Kabupaten Probolinggo.

“Multi grade sudah jalan, beberapa daerah juga sudah datang ke sini untuk melihat langsung. Bahkan ada kunjungan dari Sekjen secara langsung,” jelasnya.

Hary menerangkan seiring evaluasi dan kebutuhan peningkatan mutu layanan, konsep tersebut kini ditingkatkan menjadi multi layanan. Skema ini tidak hanya mengintegrasikan pembelajaran lintas kelas, tetapi juga memperluas cakupan layanan pendidikan, termasuk pola satu atap dari PAUD/TK yang terintegrasi dengan SD.

“Dari multi grade ini, wacana hari ini kita tingkatkan menjadi multi layanan. Termasuk proses satu atap, dari TK atau PAUD digabungkan dengan SD,” terangnya.

Penggabungan layanan ini diharapkan mendukung program wajib belajar 13 tahun, termasuk satu tahun pendidikan pra sekolah agar kesinambungan pendidikan anak lebih terjamin.

“Selain integrasi jenjang, konsep multi layanan juga mencakup pemenuhan gizi serta pembiasaan pola hidup sehat di sekolah,” lanjutnya. 

Hary menegaskan pendidikan tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kesehatan peserta didik.

“Multi layanan lainnya yaitu pemenuhan gizi. Kita coba bagaimana cara makan yang baik, waktu makan, gizinya bagaimana dan tempatnya di mana,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan aman, termasuk menghadapi tantangan era digital.

“Sekolah itu kehidupan anak-anak. Apalagi sekarang zaman digital, perlu ada pembatasan supaya orang tua juga tahu. Karena sekolah untuk anak didik bukan hanya tanggung jawab guru atau pendidik, tapi tanggung jawab kita semua,” tambahnya.

Sementara Gender and Child Protection Lead INOVASI Jakarta Emmy menilai berbagai program pengasuhan anak di Kabupaten Probolinggo sudah berjalan, namun masih terdapat ruang untuk penguatan, khususnya pada aspek perlindungan anak serta pemenuhan gizi dan nutrisi.

“Dari proses dua hari ini, kami melihat memang sudah ada program-program yang dijalankan di Kabupaten Probolinggo terkait dengan pengasuhan anak, termasuk isu perlindungan anak serta penguatan program gizi dan nutrisi. Beberapa sudah berjalan, tetapi masih ada ruang yang bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Menurutnya, hasil diskusi menunjukkan bahwa jajaran OPD dan sekolah telah mampu memetakan persoalan yang dihadapi di lapangan. Mereka juga mengidentifikasi kesenjangan (gap) yang masih perlu ditutup agar penguatan pengasuhan, perlindungan serta pemenuhan gizi anak dapat berjalan lebih optimal.

“Teman-teman dari dinas dan sekolah sudah mengetahui secara jelas kebutuhan masyarakat di daerahnya. Bahkan tanpa perlu digali terlalu jauh, mereka sudah bisa mengidentifikasi apa yang menjadi gap dan apa yang perlu diperkuat,” jelasnya.

Ke depan, INOVASI bersama pemerintah Daerah akan mendorong implementasi model kelas rangkap dengan multilayanan (multi grade, multi service) di 10 sekolah terpilih sebagai percontohan atau pilot project pola layanan terpadu.

“Nantinya akan ada pelatihan untuk sekolah-sekolah terpilih, direncanakan di 10 sekolah dengan materi yang sudah disepakati bersama. Implementasinya berupa kelas rangkap dengan multilayanan sebagai model percontohan,” terangnya.

Emmy menegaskan, desain program dukungan tersebut disusun berdasarkan kebutuhan riil di lapangan dan masukan dari para pemangku kepentingan, baik dari dinas maupun pihak sekolah.

“Kami berusaha mendesain program ini benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan. Jadi berdasarkan masukan dari dinas dan sekolah tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan dan di mana letak kesenjangannya,” tegasnya.

Emmy juga mengapresiasi semangat peserta selama dua hari kegiatan. Antusiasme tersebut menjadi modal penting untuk memastikan program berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Saya melihat semangat teman-teman luar biasa. Mereka bahkan sudah mengusulkan agar materi tidak hanya diberikan kepada guru atau sekolah, tetapi juga menjangkau keluarga, khususnya orang tua sebagai pihak terdekat dengan anak,” tambahnya.

Workshop penguatan kapasitas ekosistem pengasuhan anak ini digelar selama dua hari mulai Kamis (26/2/2026). Kegiatan ini melibatkan Disdikdaya, Dinas Kesehatan (Dinkes), DP3AP2KB, Tim Penggerak PKK Kabupaten Probolinggo, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), Puskesmas Sukapura, pengawas SD dan TK, Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Dikdaya Kecamatan Sukapura, kader posyandu serta kepala sekolah di Kecamatan Sukapura. 

Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!