Camat Wonomerto Beri Penjelasan Resmi Terkait Polemik Kemasan Makanan MBG Di Desa Sumberkare
Probolinggo, Radarpatroli
Camat Wonomerto, Rasyidhi, S.Sos., MM, memberikan penjelasan lengkap menanggapi pemberitaan media terkait ketidakpantasan kemasan makanan program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang dilakukan oleh SPPG Desa Sumberkare. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa pihak kecamatan telah bergerak cepat melakukan langkah evaluasi bersama seluruh penanggung jawab (PIC) lembaga sekolah untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali. Senin (08/12/2025).

Menurut Camat Wonomerto Rasyidhi, persoalan tersebut terjadi setelah dilakukan pengecekan mendalam oleh pihak kecamatan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kesalahan bukan berasal dari dapur penyedia MBG, melainkan terjadi pada tingkat sekolah masing-masing. Ia menjelaskan bahwa makanan dari dapur sebenarnya telah disalurkan sesuai prosedur menggunakan ompreng standar yang telah ditetapkan oleh pengelola MBG. Namun, di tingkat sekolah, kemasan tersebut diubah dan dipindahkan ke tempat makan (tepak) milik siswa, dan tindakan inilah yang menjadi sumber masalah.
Camat Wonomerto Rasyidhi memaparkan bahwa pemindahan makanan secara tidak sesuai standar dapat berdampak pada kualitas hidangan. “Begitu makanan dikumpulkan ulang atau disalin ke wadah lain, kualitasnya berubah, bisa jadi tidak enak dan berkurang kelayakannya,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa pihak kecamatan telah menggelar pertemuan lengkap dengan para PIC di SPPG Desa Sumberkare sebagai tindak lanjut atas laporan yang beredar di media online.

Tidak hanya itu, Camat Wonomerto turut menyampaikan bahwa tim Puskesmas serta Dinas Lingkungan Hidup juga telah melakukan pengecekan terkait dugaan pencemaran IPAL. Hasilnya, tidak ditemukan adanya permasalahan atau dampak lingkungan. “Semua sudah dievaluasi dan dinyatakan tidak ada masalah,” Tutup Camat Wonomerto Rasyidhi.
Di sisi lain, Abdullah selaku pemilik lahan yang disebut dalam pemberitaan turut memberikan klarifikasi untuk meluruskan informasi yang beredar. Ia menyampaikan bahwa dari dapur MBG, seluruh makanan telah dikemas menggunakan packing standar yang sudah ditetapkan oleh BGN, sehingga tidak ada pelanggaran prosedur pada tahap distribusi awal.
Abdullah menjelaskan bahwa persoalan yang muncul sebenarnya terjadi karena kebiasaan sebagian siswa yang tidak menghabiskan makanan di sekolah. Banyak dari mereka yang memilih membawa pulang makanan dengan menggunakan wadah pribadi, bukan wadah standar dari pihak dapur. Kondisi inilah yang menyebabkan makanan terlihat tidak layak ketika difoto, sehingga memunculkan persepsi negatif di masyarakat.
“Ketika anak membawa pulang makanan dengan wadah sendiri, otomatis itu sudah di luar standar yang kami terapkan di dapur. Kami tidak bisa mengontrol hal itu karena niat awal anak-anak hanya ingin membawa pulang makanan daripada dibuang,” jelasnya.
Terkait isu IPAL yang diberitakan, Abdullah memastikan bahwa sistem pembuangan yang ada berfungsi normal dan tidak menimbulkan dampak negatif. “Pembuangannya jelas, arahnya ke saluran IPAL. Tidak ada masalah seperti yang diberitakan,” ujarnya.
Dengan adanya klarifikasi dari Camat Wonomerto dan pihak terkait, permasalahan kemasan makanan MBG di Desa Sumberkare kini telah mendapatkan titik terang. Pemerintah kecamatan berkomitmen untuk terus melakukan pengawasan dan evaluasi agar distribusi program MBG berjalan sesuai standar dan tidak menimbulkan polemik di kemudian hari.
Penulis : Sayful
Editor : Yuris
