Wali Kota Probolinggo Dukung Kerapan Kambing sebagai Identitas Budaya Daerah
Probolinggo, Radarpatroli
Ratusan pasang mata tertuju ke lintasan saat derap kaki kambing berpacu kencang, memecah sorak-sorai penonton yang memadati lapangan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Suasana penuh semangat itu mewarnai lomba kerapan kambing dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Paguyuban Kerapan Kambing Djoyolelono yang digelar pada Minggu (28/12), sekaligus menjadi hiburan rakyat yang sarat nilai budaya.

Keseruan lomba tersebut semakin terasa dengan hadirnya Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin yang menyempatkan diri menonton langsung jalannya perlombaan. Wali kota hadir tidak sendiri, melainkan didampingi Camat Kedopok Dwi Hermanto. Kehadiran pimpinan daerah ini menjadi bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus pengembangan potensi ekonomi masyarakat melalui tradisi kerapan kambing.
Lomba kerapan kambing kali ini diikuti oleh sebanyak 168 ekor kambing yang berasal dari Kota Probolinggo dan Kabupaten Lumajang. Para peserta tersebut dibagi ke dalam tiga kategori perlombaan, yakni kategori A, B dan C, sesuai dengan kelas dan kemampuan kambing. Untuk mengikuti perlombaan, setiap peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp200 ribu untuk semua kategori.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi hari. Tidak hanya warga sekitar, penonton juga datang dari berbagai wilayah untuk menyaksikan langsung tradisi kerapan kambing yang jarang digelar dalam skala besar. Selain menjadi ajang hiburan, lomba ini juga menjadi wadah silaturahmi antar pecinta kerapan kambing dari berbagai daerah.

Ketua Panitia sekaligus Ketua Paguyuban Kerapan Kambing Djoyolelono, Slamet, menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan ganda. Selain memberikan hiburan bagi masyarakat, lomba kerapan kambing juga berdampak pada peningkatan nilai ekonomi ternak.
“Tujuan acara ini untuk hiburan dan menaikkan harga kambing. Kambing juara harganya bisa mahal, bahkan ada yang ditawar sampai Rp30 juta tapi tidak dijual pemiliknya. Jadi sifatnya hiburan sekaligus pelestarian budaya,” ungkapnya.
Menurut Slamet, kerapan kambing merupakan tradisi yang harus terus dijaga agar tidak tergerus zaman. Melalui kegiatan rutin seperti ini, diharapkan generasi muda juga tertarik untuk mengenal dan melestarikan budaya lokal yang menjadi ciri khas daerah.
Sementara itu, salah satu pemenang Juara 1 Kategori A, Rokib (25), warga Kareng Kidul, mengaku sudah beberapa kali mengikuti lomba kerapan kambing. Ia menilai ajang seperti ini sangat positif karena dapat menjadi sarana menyalurkan hobi sekaligus meningkatkan nilai jual ternak.
“Ini sudah biasa ikut lomba. Selain kerapan kambing, juga pernah ikut sapi kerap dan lomba-lomba lainnya. Harapannya bisa ada event setiap bulan,” ujarnya.
Rokib juga mengungkapkan bahwa perawatan kambing juaranya dilakukan secara khusus dan konsisten sejak awal. Mulai dari pemilihan bibit hingga pola perawatan menjadi kunci keberhasilan.
“Perawatannya pakai jamu racikan tradisional, seperti kunyit dan telur. Bibitnya dari kambing sendiri, induknya juga juara,” jelasnya.
Dengan tingginya antusiasme masyarakat dan peserta, lomba kerapan kambing Djoyolelono diharapkan dapat terus digelar secara berkelanjutan. Selain menjaga warisan budaya, kegiatan ini dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya para peternak kambing di Kota Probolinggo dan sekitarnya.
Reporter : Sayful
Sumber Berita : Kominfo Kota
