Dari CFD Menuju Sentra Bonsai, Kota Probolinggo Kembangkan Wisata Tematik

0
IMG-20260201-WA0016
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli 

Di tengah rutinitas Car Free Day (CFD) Jalan Suroyo, Minggu (1/2) pagi, seni merawat alam tampil mencuri perhatian. Aktivitas “jemur bonsai bareng” yang digelar Komunitas Konco Bonsai Ngopi Bareng menjadi magnet tersendiri, hingga menarik perhatian Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin untuk berhenti, mengamati, dan berdiskusi langsung dengan para pegiat bonsai.

Kegiatan jemur bonsai tersebut menghadirkan beragam koleksi bonsai yang tertata rapi di sepanjang area CFD. Kehadiran komunitas ini memberikan nuansa berbeda di tengah aktivitas warga yang berolahraga dan bersantai. Komunitas pecinta bonsai di Kota Probolinggo sendiri telah aktif sejak beberapa tahun lalu, terutama di kawasan Pasar Minggu. Kini, geliat komunitas kembali bangkit dan semakin diminati berbagai kalangan.

Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin yang juga dikenal sebagai pecinta bonsai menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap aktivitas komunitas tersebut. Menurutnya, ke depan perlu disiapkan lokasi yang lebih representatif agar kegiatan bonsai dapat berkembang lebih luas dan memberikan manfaat edukatif bagi masyarakat.

“Kami merencanakan pemindahan lokasi kegiatan ke tempat yang lebih representatif, seperti stadion, agar mampu menampung lebih banyak peserta serta memberikan ruang yang lebih luas untuk pameran dan edukasi bonsai,” jelas Dokter Amin.

Ia menegaskan bahwa bonsai bukan sekadar seni tanaman hias, melainkan sarat makna filosofi kehidupan. “Bentuk bonsai mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Keindahannya terletak pada keseimbangan batang, cabang, dan ruang, termasuk ruang hidup bagi makhluk lain. Proses pembentukannya membutuhkan keterampilan, kesabaran, dan kepekaan seni yang tinggi, dari batang utama hingga ranting terkecil,” terangnya.

Beragam gaya bonsai seperti cascade, upright, mini hingga large menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung CFD. Pemerintah Kota Probolinggo pun telah memasukkan kontes bonsai ke dalam kalender event tahunan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis komunitas. Bahkan ke depan, direncanakan pembentukan sentra bonsai yang berfungsi sebagai destinasi wisata sekaligus pusat aktivitas komunitas.

Di sentra tersebut, masyarakat dapat melihat langsung keindahan bonsai, belajar teknik perawatan, hingga menyaksikan proses pembentukan seperti wiring dan pruning. Kolaborasi lintas sektor juga disiapkan, termasuk dengan pengrajin batik untuk menciptakan motif batik bertema bonsai serta pemanfaatan bonsai sebagai elemen visual dalam berbagai event kota.

Menurut wali kota, bonsai juga merupakan metafora kehidupan manusia. Pohon yang dirawat dan dibentuk dengan baik akan menampilkan potensi terbaiknya, sebagaimana manusia yang diberdayakan dan dibina secara berkelanjutan. Atas dukungan tersebut, komunitas bonsai menyampaikan apresiasi dan menyatakan kesiapan berkontribusi dalam berbagai kegiatan kota.

Ketua Panitia sekaligus perwakilan komunitas, Yugo Sasmita, menjelaskan bahwa aktivitas komunitas di CFD telah rutin berlangsung selama kurang lebih tiga bulan terakhir. Ia menilai kunjungan Wali Kota Probolinggo menjadi dukungan moril yang sangat berarti bagi para pecinta bonsai.

“Sekitar 90 persen bonsai yang ditampilkan merupakan jenis santigi, ditambah jenis lain seperti kimeng, sakura, sancang, lowa, dan ileng-ileng. Kegiatan jemur bareng dilakukan sejak pukul 06.00 hingga 10.00 pagi dan diikuti sekitar 20 orang agar tanaman mendapatkan sinar matahari optimal,” jelasnya.

Yugo yang telah menekuni bonsai selama lima tahun ini mengungkapkan bahwa selain sebagai hobi, bonsai juga memiliki nilai investasi jangka panjang dengan harga yang bisa mencapai puluhan juta rupiah. Meski demikian, kebersamaan dan silaturahmi tetap menjadi nilai utama dalam komunitas. Perawatan bonsai, khususnya jenis santigi, membutuhkan ketelatenan tinggi, bahkan menggunakan air laut sesuai habitat aslinya di kawasan pesisir.

Turut mendampingi Wali Kota, Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin menyampaikan bahwa kecintaannya terhadap bonsai telah terjalin selama puluhan tahun. Ia mengungkapkan bahwa di rumah mereka memiliki sekitar 500 koleksi bonsai dari berbagai jenis dan ukuran.

“Bonsai mengajarkan bahwa keindahan tidak hadir secara instan, tetapi melalui proses, sentuhan, dan pembinaan. Ini sejalan dengan kehidupan manusia yang perlu diberdayakan dan digali potensinya agar menjadi pribadi yang bernilai,” tuturnya.

Menurutnya, bonsai juga menjadi simbol keharmonisan hidup dengan alam, di mana berbagai unsur kehidupan seperti tanaman, burung, dan ikan dapat menyatu secara seimbang dalam satu ruang kehidupan.

Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kota 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!