BPBD Kabupaten Probolinggo Perkuat Mitigasi Dan Respons Cepat Hadapi Potensi Bencana
Probolinggo, Radarpatroli.com –
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan koordinasi lintas sektor serta pemantauan kondisi cuaca dan wilayah rawan bencana.

Hal tersebut terungkap dalam zoom meeting rapat koordinasi (rakor) siaga bencana yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto pada Rabu (25/3/2026). Rapat ini diikuti oleh seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta para camat se-Kabupaten Probolinggo guna menyamakan langkah dalam penanganan dan mitigasi bencana.
Dalam forum tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief menyampaikan bahwa kejadian bencana sejak awal tahun hingga saat ini masih didominasi banjir, cuaca ekstrem dan tanah longsor. Kondisi ini membuat penanganan darurat masih terus berlangsung di sejumlah wilayah.
“Sejak awal tahun 2026, kejadian bencana di Kabupaten Probolinggo didominasi banjir, cuaca ekstrem dan tanah longsor. Hingga saat ini, penanganan darurat masih terus berjalan dan membutuhkan perhatian serta kesiapsiagaan bersama,” ujarnya.
Oemar menjelaskan, selama periode libur Lebaran juga tercatat beberapa kejadian lain, di antaranya satu peristiwa kebakaran rumah serta krisis air bersih yang disebabkan tidak berfungsinya fasilitas PDAM di beberapa wilayah Kabupaten Probolinggo.
“Pada masa libur Lebaran, selain cuaca ekstrem dan longsor, terdapat satu kejadian kebakaran rumah dan krisis air bersih akibat tidak berfungsinya fasilitas PDAM. Ini menjadi perhatian bersama agar pelayanan dasar tetap berjalan,” terangnya.
Lebih lanjut Oemar mengungkapkan bahwa status tanggap darurat bencana cuaca ekstrem dan hidrometeorologi basah yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 31 Maret 2026 diusulkan untuk diperpanjang hingga 30 Juni 2026. Usulan tersebut didasarkan pada kondisi penanganan yang masih berlangsung serta potensi bencana yang masih cukup tinggi.
“Kami mengusulkan perpanjangan status tanggap darurat hingga 30 Juni 2026 karena progres penanganan masih berjalan dan potensi bencana masih ada. Pelaksanaan di lapangan juga menunggu kondisi potensi bahaya berkurang,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan pada periode pancaroba Maret hingga April 2026. Pada masa tersebut berpotensi terjadi cuaca ekstrem seperti angin kencang, puting beliung, petir serta hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi singkat yang dapat memicu banjir maupun longsor.
“Pada masa pancaroba ini, kita harus mewaspadai potensi angin kencang, puting beliung, petir dan hujan intensitas tinggi berdurasi singkat. Ini berpotensi memicu bencana lanjutan seperti banjir dan longsor,” tegasnya.
Di akhir paparannya, Oemar Sjarief menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi serta media dalam memperkuat mitigasi dan respons bencana di Kabupaten Probolinggo.
“Penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu kolaborasi bersama agar mitigasi dan penanganan bencana bisa berjalan lebih cepat dan efektif,” pungkasnya.
Reporter : Sayful
Sumber Berita : Kominfo Kab.
