Kolaborasi DLH Kabupaten Probolinggo Dan CSR PT POMI, Penguatan Masyarakat Adat Tengger Jadi Kunci Konservasi Alam

0
WhatsApp-Image-2026-07-03-at-14.50.47
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli.com

Pelestarian lingkungan di kawasan Tengger tidak hanya membutuhkan kebijakan pemerintah, tetapi juga keterlibatan aktif masyarakat adat sebagai penjaga kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Semangat itulah yang mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo memperkuat kelembagaan masyarakat hukum adat Suku Tengger melalui pembinaan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Bertempat di Pendopo Kecamatan Sukapura, Kamis (2/7/2026), DLH Kabupaten Probolinggo berkolaborasi dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT POMI-Paiton Energy menggelar pembinaan penguatan kelembagaan masyarakat hukum adat Suku Tengger. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran masyarakat adat dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan tata kelola pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

Pembinaan tersebut dibuka langsung oleh Kepala DLH Kabupaten Probolinggo Roby Siswanto dan diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri atas kepala desa se-Kecamatan Sukapura, tokoh masyarakat, pegiat lingkungan hidup serta perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Probolinggo.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan materi dari Iskandar Zulkarnaen dari SMIAS dan M. Anshori dari Forum Sahabat Gunung. Keduanya memaparkan pentingnya penguatan kelembagaan masyarakat hukum adat, pelestarian lingkungan, serta konservasi sumber daya air sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam menjaga keseimbangan ekosistem kawasan Tengger.

Kepala DLH Kabupaten Probolinggo Roby Siswanto mengatakan, pembinaan tersebut merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat hukum adat Suku Tengger agar semakin mampu menjaga kelestarian sumber daya alam yang menjadi identitas sekaligus penopang kehidupan masyarakat.

Menurutnya, masyarakat adat memiliki posisi yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan karena selama ini telah menerapkan berbagai nilai kearifan lokal yang terbukti mampu menjaga kelestarian alam.

“Masyarakat adat memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus mendorong penguatan kelembagaan agar upaya pelestarian alam dapat dilakukan secara terstruktur, berkelanjutan dan melibatkan seluruh elemen masyarakat,” ujar Roby.

Roby menegaskan, melalui kegiatan tersebut pihaknya ingin memperkuat kelembagaan masyarakat hukum adat Suku Tengger agar semakin berperan dalam menjaga dan melindungi sumber daya alam, termasuk dalam pengelolaan sampah dan konservasi lingkungan.

Menurutnya, kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat merupakan modal utama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di kawasan Tengger.

“Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat harus menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan kawasan Tengger,” lanjutnya.

Salah satu fokus utama yang akan dikembangkan DLH Kabupaten Probolinggo adalah pelestarian berbagai jenis vegetasi asli kawasan Tengger yang kini mulai mengalami tekanan akibat masuknya tanaman invasif dari luar wilayah.

Roby menjelaskan, vegetasi asli memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tengger. Karena itu, keberadaannya harus dipertahankan agar tidak tergeser oleh tanaman asing yang berpotensi merusak keseimbangan ekosistem.

“Kami akan mengupayakan pelestarian jenis vegetasi asli alam Suku Tengger yang mulai langka karena terdesak oleh jenis tanaman pendatang yang bersifat invasif. Vegetasi asli harus kembali menjadi identitas sumber daya alam lokal sekaligus memiliki nilai daya tarik yang besar untuk mendukung pengembangan kawasan,” jelasnya.

Ia berharap upaya konservasi tersebut tidak hanya memberikan dampak positif terhadap kelestarian lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi wisata berbasis konservasi alam dan budaya.

Menurut Roby, kawasan Tengger memiliki potensi besar apabila kelestarian alam dan budaya dapat dipertahankan secara beriringan.

“Jika vegetasi asli tetap terjaga, manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga dapat memberikan nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Yang terpenting adalah memastikan keberlanjutan atau sustainability kawasan Tengger tetap terpelihara,” tambahnya.

Selain fokus pada konservasi vegetasi, DLH Kabupaten Probolinggo juga terus memperkuat sistem pengelolaan sampah di wilayah Kecamatan Sukapura. Salah satu inovasi yang akan diterapkan adalah sistem registrasi pelayanan sampah berbasis rumah tangga.

Melalui sistem tersebut, setiap rumah tangga akan didata sehingga pelayanan pengangkutan sampah dapat dilakukan secara lebih efektif, tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan.

“Dalam pengelolaan sampah kami akan menerapkan sistem registrasi untuk setiap rumah tangga agar pelayanan pengangkutan sampah menjadi lebih optimal. Dengan data yang jelas, pelayanan akan semakin baik sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat,” terangnya.

Roby berharap sinergi antara Pemerintah Kabupaten Probolinggo, CSR PT POMI-Paiton Energy, pemerintah desa, tokoh masyarakat, pegiat lingkungan, serta masyarakat hukum adat Suku Tengger dapat terus diperkuat demi menjaga keberlanjutan kawasan Tengger.

Menurutnya, pelestarian lingkungan hanya dapat berhasil apabila seluruh pihak bergerak bersama dalam menjaga alam, melestarikan budaya, serta membangun kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

“Pelestarian lingkungan tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan sinergi seluruh pihak agar kawasan Tengger tetap lestari, budaya masyarakat adat tetap terjaga dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!