Pro Jurnalis media Siber Rumah Besar Wartawan “Penjaga Moral Nurani Bangsa”
Probolinggo, Radarpatroli.com
Ketua Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kota Probolinggo M Hisbullah Huda mengatakan, kehadiran organisasi jurnalis ini punya amanah sebagai Penjaga Moral Nurani Bangsa, yakni Pers Berintegritas, Kompeten, dan Profesional.
Apalagi transformasi jurnalis Siber diera digital memperkuat kompetensi perlindungan hukum demi masa depan Pers Indonesia.
“Kehadiran Pro Jurnalismedia Siber (PJS) di Kota Probolinggo bukan sekedar memenuhi amanah organisasi, melainkan memikul amanah, dan menentukan arah masa depan persatuan wartawan, sekaligus meneguhkan kembali martabat jurnalis ditengah perubahan jaman yang bergerak semakin cepat,”ujarnya.
Pesan ini bukan sebuah pernyataan, melainkan dengan sebuah pertanyaan besar apabila suatu hari nanti seluruh wartawan memilih diam” Siapakah yang akan berdiri dihadapan Bangsa ini untuk mengatakan bahwa masih ada kebenaran yang harus diperjuangkan ???.
“Pertanyaan itu bukan untuk dijawab dengan kata-kata. Pertanyaan itu dijawab oleh keberanian. Wartawan sejati tidak dikenal dari Kartu Pers yang sedang dipegangnya. Bukan dari tempat menyiarkan secara cepat sebuah berita. Wartawan sejati dikenal karena Nyali dan keberaniannya menjaga kebenaran ketika kebenaran itu tidak lagi nyaman untuk tersampaikan,”tegas Ko Huda, panggilan akrabnya.
Lebih lanjut, Ko Huda menegaskan, sejarah tidak mengingat siapa yang paling cepat menulis berita, namun sejarah hanya mengingat siapa yang tetap berdiri ketika semua orang memilih mundur. Bahkan, sejarah tidak pernah memuliakan mereka yang mengikuti arus karena selalu memberikan tempat terhormat kepada yang punya hati nurani.
Kehadiran Pro Jurnalismedia Siber bukan sekedar menyusun kepengurusan, program kerja, namun menentukan apakah organisasi yang sekedar mengikuti perkembangan zaman, ataukah organisasi memimpin perubahan zaman,”tegasnya.
Disisi lain, hidup pada zaman yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Hari ini, kecerdasan buatan AI mampu menulis berita. Algoritma memimpin kecerdasan otak untuk menentukan apa yang harus dibaca. Media sosial membentuk opini sebelum fakta selesai diverifikasi. Batas antara fakta dan manipulasi semakin tipis.
Batas antara informasi dan disinformasi semakin kabur, dan ditengah derasnya arus itu ada satu hal yang tidak boleh tergerus. Teknologi akan terus berubah, platform akan terus berganti-ganti cara manusia memperoleh informasi akan terus berkembang. Namun, kejujuran tidak pernah mengikuti pembaharuan.
“Kejujuran akan bekerja sesuai normanya,”tutur Ko Huda.
