Kota Probolinggo Paparkan Tiga Inovasi Unggulan di Jatim Jago Inovasi Award 2026
Probolinggo, Radarpatroli.com
Tiga inovasi unggulan Kota Probolinggo mendapat kesempatan untuk dipaparkan dalam Penilaian Paparan Inovasi Jatim Jago Inovasi Award Tahun 2026 Kategori I, Selasa (22/9/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Command Center Kantor Wali Kota Probolinggo dan menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menunjukkan berbagai terobosan yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Dalam paparan tersebut, Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menyampaikan secara langsung berbagai inovasi yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pelayanan publik, tetapi juga menyentuh persoalan sosial, pemberdayaan masyarakat, serta kesehatan. Setiap inovasi dipaparkan mulai dari latar belakang, proses pelaksanaan, dampak yang dihasilkan hingga peluang pengembangannya.
Wali Kota dr. Aminuddin didampingi Kepala Bapperida Rey Suwigtyo, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Siti Romlah, Camat Wonoasih Eko Candra Wirawan, serta tenaga kesehatan Puskesmas Ketapang Sunarwan.
Paparan tersebut dinilai oleh dua dewan juri, yakni Yusharto Huntoyungo, Kepala BSKDN Kemendagri, dan Erna Setiyaningrum, dosen Universitas Airlangga (Unair).
Dalam ajang tersebut, Kota Probolinggo memaparkan tiga inovasi, yakni Amin SIGAPP (Asesmen Psikologis dan Konseling Sinergi Cegah Perkawinan Anak dan Pemberdayaan Perempuan), Balsem Jumbo (Bantuan Langsung Sembako Jumat Barokah), serta Sekali Serbu TB (Seminggu Sekali Sedot Rumah Pasien TB dan Bersihkan Udara untuk Memberantas Tuberkulosis dengan UV Box).
Inovasi pertama, Amin SIGAPP, dipaparkan Kepala Dinsos PPPA Kota Probolinggo Siti Romlah. Inovasi ini menghadirkan pendekatan komprehensif dalam pencegahan perkawinan anak dengan menjadikan proses permohonan dispensasi kawin sebagai pintu masuk untuk melakukan asesmen psikologis, konseling keluarga, edukasi hingga pemberdayaan.

Kota Probolinggo memiliki 76.513 penduduk usia anak atau sekitar 31,29 persen dari jumlah penduduk. Dalam paparannya, sejumlah faktor disebut menjadi pemicu perkawinan anak, antara lain tekanan ekonomi dan sosial, pergaulan, pemahaman agama, disrupsi digital, stigma budaya, putus sekolah, pola asuh rentan serta rendahnya literasi kesehatan reproduksi.
Melalui Amin SIGAPP, layanan yang sebelumnya bersifat administratif ditransformasi menjadi intervensi psikologis yang terintegrasi dengan Puspaga dan Pengadilan Agama. Layanan tersebut diberikan secara gratis dan menjadi bagian dari proses sebelum persidangan.
Berdasarkan data yang dipaparkan, terjadi tren penurunan pada sejumlah indikator. Di Puspaga, jumlah klien turun 27,3 persen, dari 55 klien pada 2024 menjadi 40 klien pada 2025. Sementara di Pengadilan Agama terjadi penurunan perkara dan putusan. Di Kementerian Agama, jumlah kasus juga tercatat turun dari 45 menjadi 34 kasus atau sebesar 24,4 persen.
Wali Kota dr. Aminuddin menegaskan, penanganan persoalan perkawinan anak tidak dapat dilakukan secara parsial. Menurutnya, intervensi harus dilakukan dari hulu hingga hilir dengan menyentuh berbagai akar persoalan, termasuk pendidikan, kemiskinan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi.
“Semangat saya pertama ingin menurunkan kemiskinan, kemudian meningkatkan indeks pembangunan manusia di Kota Probolinggo. Kita lihat akar masalahnya sehingga bisa menyelesaikannya secara komprehensif,” jelasnya.
Pemkot Probolinggo juga melakukan intervensi terhadap persoalan putus sekolah melalui program Kejar Paket A, B dan C hingga dukungan pendidikan lanjutan. Bagi pasangan yang telah menikah, intervensi dilanjutkan melalui pelatihan dan pemberdayaan ekonomi agar mereka memiliki kemampuan untuk meningkatkan kemandirian keluarga.
Inovasi kedua adalah Balsem Jumbo dari Kelurahan Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih. Inovasi tersebut berawal dari kepedulian ASN Kelurahan Kedunggaleng yang menyisihkan sebagian rezekinya setiap Jumat untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Program tersebut kemudian berkembang dengan melibatkan RT/RW, kader PKK, kader Posyandu, tiga pilar kelurahan hingga masyarakat. Dengan keterlibatan berbagai unsur, Balsem Jumbo tidak hanya menjadi program bantuan, tetapi juga mendorong kepedulian dan gotong royong di tengah masyarakat.
Pengumpulan donasi dilakukan sejak Senin hingga Kamis melalui sistem digital maupun donasi secara langsung. Dana yang terkumpul kemudian dibelanjakan dalam bentuk kebutuhan pokok dan disalurkan kepada sasaran pada Jumat siang.
“Dengan adanya ini kita melibatkan seluruh masyarakat sehingga betul-betul mereka merasa untuk mencegah gejolak-gejolak sosial,” ungkap Aminuddin.
Sementara inovasi ketiga adalah Sekali Serbu TB yang dikembangkan tenaga kesehatan Puskesmas Ketapang, Sunarwan. Inovasi ini berupa alat sederhana yang dirakit untuk membantu membersihkan udara di rumah pasien tuberkulosis (TB) melalui sistem sirkulasi udara dan sterilisasi menggunakan UV Box.
Melalui layanan jemput bola, petugas mendatangi rumah pasien untuk melakukan penyedotan dan pembersihan udara. Kegiatan tersebut sekaligus disertai edukasi serta pemantauan kondisi lingkungan rumah pasien guna mendukung upaya pengendalian penyebaran TB.
Pengujian laboratorium menunjukkan adanya penurunan jumlah mikroorganisme di dalam ruangan setelah dilakukan intervensi. Pemkot Probolinggo juga telah mengalokasikan pengadaan 24 unit alat yang akan digunakan di enam puskesmas di Kota Probolinggo.
Selain telah masuk dalam dokumen perencanaan daerah dan memiliki SOP, inovasi Sekali Serbu TB juga telah didaftarkan untuk perlindungan kekayaan intelektual. Sementara UV Box yang digunakan telah memiliki desain industri.
Dalam sesi penilaian, dewan juri turut memberikan perhatian terhadap potensi pengembangan dan replikasi inovasi tersebut. Yusharto Huntoyungo menilai inovasi Sekali Serbu TB masih memiliki ruang untuk dikembangkan, termasuk melalui penyempurnaan desain alat agar lebih ringkas dan mudah digunakan dalam berbagai kondisi rumah pasien.
Wali Kota dr. Aminuddin menyampaikan bahwa Pemkot Probolinggo terbuka terhadap pengembangan maupun replikasi inovasi tersebut. Ia berharap inovasi yang lahir dari lingkungan pemerintah daerah dan tenaga kesehatan dapat memberikan manfaat lebih luas, khususnya dalam mendukung upaya pengendalian tuberkulosis.
“Tujuan kita adalah bagaimana alat ini bisa menjadi bagian dari program dalam rangka mengeliminasi TB di Indonesia,” pungkasnya.
Reporter : Sayful
Sumber Berita : Kominfo Kota
