Safari Inklusif di Kabupaten Probolinggo, 120 Guru SD Dibekali Strategi Pembelajaran Ramah Anak

0
IMG-20261021-WA0001
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli.com

Mewujudkan sekolah yang ramah bagi seluruh peserta didik membutuhkan lebih dari sekadar kesempatan untuk bersekolah. Setiap anak perlu mendapatkan ruang untuk berkembang, merasa diterima, serta memperoleh pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Semangat inilah yang terus didorong melalui penguatan pendidikan inklusif di Kabupaten Probolinggo.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi pendidikan inklusif dalam Safari Inklusif yang diselenggarakan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo berkolaborasi dengan Program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), kemitraan Pemerintah Indonesia-Australia. Kegiatan ini diikuti 120 guru Sekolah Dasar (SD) di ruang pertemuan SDN Pabean, Kecamatan Dringu, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Inclusive Education Specialist sekaligus Fasilitator Inklusi INOVASI Jakarta Eni Martina, Kepala SDN Srandil Ponorogo Budi Cahyono, serta tim ULD Disdikdaya Kabupaten Probolinggo.

Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Hary Tjahjono, menegaskan bahwa penerapan pendidikan inklusif harus diawali dengan perubahan cara pandang terhadap keberagaman kemampuan dan karakteristik peserta didik.

Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya menerima anak dengan kebutuhan yang beragam, tetapi juga harus mampu menyediakan dukungan agar setiap peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang.

“Sekolah hebat bukan hanya yang membanggakan anak yang cepat pintar, tapi yang mau mendampingi anak yang butuh penjelasan berulang, yang memberi ruang bagi yang belum berani bicara dan yang menghargai kemajuan kecil dengan perjuangan besar,” jelasnya.

Hary mengajak para guru agar tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap anak yang mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran. Sebaliknya, guru perlu mengenali penyebab kesulitan tersebut dan mencari pendekatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing peserta didik.

Ia menekankan lima langkah penting dalam memperkuat pendidikan inklusif di sekolah. Langkah tersebut meliputi membangun budaya saling menghormati, mengenali potensi anak tanpa memberikan label, menyesuaikan metode pembelajaran, menjaga kesinambungan pendampingan antarjenjang pendidikan, serta memastikan adanya tindak lanjut setelah pelatihan.

Selain itu, setiap satuan pendidikan diminta menyusun rencana aksi sederhana yang memuat kebutuhan prioritas, langkah perbaikan, penanggung jawab, dan waktu pelaksanaan. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh guru selama kegiatan dapat diterapkan secara nyata dalam proses belajar mengajar.

“Saya paham mendampingi keragaman itu tidak mudah. Tapi kita tidak perlu menunggu bisa segalanya untuk mulai memperbaiki satu hal,” tegas Hary.

Sementara itu, Inclusive Education Specialist dan Fasilitator Inklusi INOVASI Jakarta, Eni Martina, menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas guru merupakan bagian penting dalam membangun sistem pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta didik, termasuk anak dengan disabilitas dan hambatan fungsional.

“Yang kita upayakan adalah meningkatkan kapasitas guru dalam menyediakan pembelajaran sehari-hari yang sesuai dengan kebutuhan seluruh anggota kelas, tetapi juga memenuhi kebutuhan pembelajaran anak yang memiliki hambatan fungsional,” ujarnya.

Eni menerangkan, pelatihan yang berlangsung selama satu hari tersebut mencakup tiga materi utama, yakni asesmen fungsional untuk pembelajaran, Universal Design for Learning (UDL), serta modifikasi kurikulum dan penyusunan modul ajar.

Melalui asesmen fungsional, guru dibekali pemahaman untuk mengenali kekuatan, kondisi, serta kebutuhan dukungan setiap peserta didik. Sementara pendekatan UDL membantu guru merancang pembelajaran dengan mempertimbangkan perbedaan kemampuan dan karakteristik siswa.

Adapun materi modifikasi kurikulum dan penyusunan modul ajar memberikan bekal kepada guru untuk menyesuaikan materi, strategi, dan metode pembelajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan anak.

Eni juga mengapresiasi antusiasme 120 guru yang mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta tidak hanya menyimak pemaparan materi, tetapi juga aktif mengikuti praktik observasi, mencatat hasil pengamatan, serta menyampaikan temuan berdasarkan kegiatan yang dilakukan.

“Saya berharap peningkatan kompetensi ini membantu guru memberikan layanan pendidikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan setiap anak. Pemenuhan hak pendidikan, termasuk bagi anak dengan disabilitas merupakan amanah undang-undang sekaligus tanggung jawab kemanusiaan. Pendidikan inklusif adalah pendidikan dari hati,” tambahnya.

Manfaat kegiatan tersebut turut dirasakan Suar Piyadi, guru fase A di sekolah multigrade SDN Wonokerto II, Kecamatan Sukapura. Ia menilai kegiatan Safari Inklusif memberikan tambahan wawasan mengenai metode dan langkah yang dapat dilakukan untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus (ABK).

Di sekolah tempatnya mengajar, terdapat dua anak berkebutuhan khusus yang masih memerlukan pemahaman lebih lanjut terkait karakteristik, kemampuan, dan potensi masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan diharapkan dapat membantu guru menentukan pendekatan pembelajaran yang lebih tepat.

“Secara garis besar, kegiatan ini bagus. Awalnya kami belum mengetahui metodenya seperti apa dan langkah apa yang harus dilakukan dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Melalui kegiatan ini, wawasan kami bertambah dan harapannya bisa diimplementasikan di lembaga,” jelas Suar.

Menurutnya, pendampingan terhadap anak berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran, pengetahuan, dan inovasi. Guru juga harus terus meningkatkan kompetensi agar mampu menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi serta kemampuan peserta didik.

Suar berharap penguatan pendidikan inklusif tidak berhenti pada satu kali pelatihan. Ia menilai guru masih membutuhkan arahan dan pendampingan berkelanjutan agar semakin siap menghadapi keberagaman kebutuhan anak di lingkungan sekolah.

“Kami para guru masih membutuhkan wawasan dan arahan agar bisa mendampingi anak-anak dengan lebih baik, sehingga setidaknya kami dapat membuat mereka tersenyum dan merasa nyaman saat belajar,” harapnya.

Melalui kolaborasi Disdikdaya, ULD, dan INOVASI, pendidikan inklusif di Kabupaten Probolinggo diharapkan semakin diterapkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Penguatan kapasitas guru menjadi salah satu langkah untuk membangun sekolah yang tidak hanya membuka pintu bagi semua anak, tetapi juga mampu memahami kebutuhan, menghargai potensi, serta memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk berkembang.

Pendidikan inklusif pada akhirnya bukan semata-mata tentang menerima perbedaan, melainkan memastikan bahwa setiap anak memperoleh dukungan yang dibutuhkan untuk belajar, berinteraksi, dan meraih masa depan sesuai potensinya.

Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!