Jadi Tuan Rumah Festival Mangrove Jatim XI, Walikota Probolinggo Aminuddin Perkuat Komitmen Pelestarian Pesisir
Probolinggo, Radarpatroli.com
Kota Probolinggo mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Festival Mangrove Jawa Timur (Jatim) ke-11 yang digelar di kawasan wisata Bee Jay Bakau Resort (BJBR), Selasa (3/11/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen pelestarian lingkungan pesisir sekaligus mendorong pengembangan potensi ekonomi mangrove.

Festival ini dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin, Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris atau Gus Haris, serta Wakil Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) Mayjen TNI Sriyanto.
Rangkaian kegiatan diawali dari Pendapa Kabupaten Probolinggo di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kota Probolinggo. Selanjutnya, rombongan menuju kawasan BJBR menggunakan kendaraan motor listrik.

Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemprov Jatim yang telah mempercayakan Kota Probolinggo sebagai tuan rumah Festival Mangrove XI. Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi motivasi untuk terus memperluas kawasan mangrove di sepanjang garis pantai kota.
Aminuddin mengungkapkan, saat ini luas kawasan mangrove di Kota Probolinggo mencapai sekitar 120 hektare dari potensi kurang lebih 150 hektare. Bahkan, dalam dua tahun terakhir telah terjadi penambahan tutupan mangrove sekitar 30 hektare.
“Kurang lebih 80 persen garis pantai atau coastal line Kota Probolinggo sudah memiliki tutupan mangrove. Kami memiliki lima kelompok kawasan mangrove dan berkomitmen untuk terus meningkatkan cakupannya hingga 100 persen,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, komitmen tersebut sejalan dengan program Lestari Mangrove yang menjadi salah satu agenda Gubernur Jawa Timur dalam RPJMD hingga 2029. Pemkot Probolinggo juga mengintegrasikan upaya pelestarian lingkungan melalui program Bersolek.
Aminuddin menegaskan, Pemkot Probolinggo bersama Pemkab Probolinggo berkomitmen memperkuat kolaborasi dalam menjaga dan mengembangkan kawasan mangrove. Keterlibatan masyarakat, komunitas lingkungan, dunia usaha hingga organisasi nonpemerintah juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan konservasi.
Menurutnya, mangrove tidak hanya berfungsi melindungi ekosistem pesisir, tetapi juga memiliki nilai ekonomi serta kemampuan menyerap karbon. Bahkan, satu hektare kawasan mangrove diperkirakan mempunyai nilai ekonomi mencapai Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar.
Potensi tersebut juga menjadi perhatian Aminuddin ketika mengikuti United Nations Biodiversity Conference di Armenia. Dalam forum internasional itu, ia berkesempatan memperkenalkan potensi mangrove Jawa Timur yang memiliki tutupan terbesar di Pulau Jawa dengan kontribusi sekitar 46 persen.
“Ke depan, mangrove akan menjadi perhatian dunia. Karena itu, kami berharap para penggiat dan kelompok masyarakat yang selama ini dengan tulus melakukan penanaman serta perawatan mangrove mendapatkan perhatian dan dukungan yang lebih besar,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Jumadi melaporkan bahwa luas mangrove di Jawa Timur terus mengalami peningkatan. Dari 27.221 hektare pada 2021, meningkat menjadi 31.067 hektare pada 2025 atau bertambah 3.846 hektare dalam kurun empat tahun.
Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan tutupan mangrove terbesar di Pulau Jawa, dengan kontribusi hampir 50 persen dari total luasan regional.
Apresiasi terhadap pengelolaan mangrove di wilayah Probolinggo juga disampaikan Wakil Kepala BPGMN Mayjen TNI Sriyanto. Ia menilai kawasan mangrove Probolinggo memiliki kondisi yang sangat baik, termasuk keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan potensi ekonomi pesisir.
Bahkan, pihaknya berencana mengusulkan Probolinggo sebagai lokasi penyelenggaraan Festival Mangrove tingkat nasional agar praktik baik pengelolaan mangrove di daerah ini dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sriyanto juga meluncurkan Sagara (Sistem Informasi Gambut dan Mangrove Nusantara), sebuah platform digital terpadu yang berfungsi sebagai pusat data, pusat pengetahuan sekaligus sarana pengaduan publik untuk memperkuat perlindungan ekosistem gambut dan mangrove nasional.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam sambutannya menegaskan bahwa Festival Mangrove bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk nyata sedekah oksigen bagi bumi.
Khofifah mengingatkan pentingnya pelestarian mangrove secara berkelanjutan, mulai dari pembibitan, perawatan intensif, perluasan kawasan hingga hilirisasi produk turunan mangrove yang memiliki nilai ekonomis.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menanam kebaikan dan menjaga alam, sebagaimana pesan Rasulullah SAW agar manusia tetap menanam sekalipun mengetahui hari kiamat akan segera tiba.
Semangat tersebut diwujudkan melalui aksi penanaman mangrove bersama yang melibatkan para pejabat dan peserta festival. Kegiatan juga diisi dengan pelepasliaran 300 bibit kepiting dan 100 burung tekukur sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem.

Suasana Festival Mangrove Jatim XI semakin semarak dengan kehadiran Kaka Slank, musisi sekaligus pegiat lingkungan yang dikenal memiliki kepedulian terhadap pelestarian alam.
Kaka turut menghibur peserta dengan membawakan sejumlah lagu. Di sela kegiatan, ia mengajak masyarakat Probolinggo untuk lebih mengenal manfaat dan pentingnya keberadaan mangrove bagi kehidupan.
“Saudara-saudaraku di Probolinggo, ayo kenalan sama mangrove, kenalan sama bakau. Apa manfaat dan fungsinya di dunia, serta apa yang bisa kita ambil dari penanaman dan merawat mangrove. Yang jelas, mangrove tidak boleh hilang dari pesisir. Insyaallah mangrove di Jawa Timur makin lebat. Bismillah,” kata Kaka.
Pemilik nama asli Akhadi Wira Satriaji tersebut mengaku mendapatkan banyak pengalaman, bertemu teman baru yang istimewa dan menambah inspirasinya selama mengikuti festival di Probolinggo. Ia juga mengaku tengah menikmati kebiasaan menanam pohon, khususnya di kawasan pesisir laut.
“ Ternyata prestasi Probolinggo soal mangrove ini super top. Hari ini kita menanam sebuah legacy yang akan kita nikmati in the future. Slankers Probolinggo harus ikut merawat ini. Ini amanat langsung dari Panglima ya, Panglima Potlot maksudnya,” seru Kaka yang disambut tepuk tangan meriah para peserta, termasuk penggemar Slank.
Pada kesempatan yang sama, Pemprov Jatim juga menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan tersebut diberikan kepada Gubernur Khofifah Indar Parawansa atas rekor sebagai pemrakarsa Festival Mangrove secara seri terbanyak, yakni 10 kali di 10 kabupaten dan kota selama lima tahun.
Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap konsistensi Pemprov Jatim dalam menginisiasi gerakan pelestarian mangrove secara berkelanjutan sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir.

Bagi Pemkot Probolinggo, penyelenggaraan Festival Mangrove Jatim XI bukan sekadar kehormatan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat langkah menuju target 100 persen tutupan mangrove di sepanjang garis pantai kota.
Melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, komunitas lingkungan dan dunia usaha, Kota Probolinggo berharap upaya pelestarian mangrove terus berkembang sehingga memberikan manfaat ekologis, sosial dan ekonomi bagi generasi mendatang.
Reporter : Sayful
Sumber Berita : Kominfo Kota
