Pemkot Probolinggo Perkuat Literasi Politik Pelajar Lewat Pembentukan Kader Demokrasi 2025
Probolinggo, Radarpatroli
Pemerintah Kota Probolinggo terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas demokrasi sejak tingkat pelajar. Senin (8/12), Aula Bakesbangpol menjadi pusat kegiatan *Pembentukan Kader Demokrasi* yang melibatkan 60 siswa-siswi perwakilan OSIS dari SMA/SMK/MA se-Kota Probolinggo. Program ini dirancang sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi muda yang cerdas politik, berintegritas, serta mampu menjadi motor penggerak demokrasi di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari lembaga penyelenggara pemilu dan pemerhati demokrasi yang memaparkan materi secara komprehensif. Mulai dari proses teknis pemilu, fungsi pengawasan, hingga bagaimana generasi muda dapat mengambil peran secara aktif dalam menjaga nilai-nilai demokrasi.
Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Kota Probolinggo Ilmiyah membuka pemahaman peserta dengan membandingkan proses pemilu nasional dengan pemilihan ketua OSIS. Ia menjelaskan bahwa setiap proses demokrasi baik di tingkat sekolah maupun negara harus berlandaskan aturan yang jelas.
“Banyak proses yang harus dilakukan. Sama halnya dengan adik-adik saat pemilihan ketua OSIS atau ketua kelas. Ada panitia, ada timeline, ada pendaftaran calon, ada penyampaian visi-misi, dan tentu saja aturan bagaimana tata cara memilih,” jelasnya.
Ilmiyah juga menekankan pentingnya pemahaman teknis pemilu, mulai dari pendaftaran peserta, pemeriksaan berkas, verifikasi faktual, hingga proses pemungutan suara di TPS yang memperhatikan berbagai segmen pemilih termasuk lansia dan penyandang disabilitas.
Ia berharap para siswa kelak dapat berpartisipasi sebagai penyelenggara pemilu. “Siapa tahu adik-adik nanti ikut menjadi penyelenggara. Prosesnya harus dipahami sejak sekarang,” ujarnya.

Materi berikutnya disampaikan oleh Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Humas Bawaslu Kota Probolinggo, Putut Gunawarman Fitrianta. Ia mengapresiasi langkah Pemkot yang dinilai strategis dalam mempersiapkan generasi muda untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan pemilu serta kehidupan demokrasi secara umum.
“Ini program positif untuk mempersiapkan para generasi muda. Ke depan, KPU dan Bawaslu siap hadir ke sekolah-sekolah untuk memperkuat pemahaman mereka terkait nilai-nilai demokrasi,” katanya.
Putut juga menekankan bahwa penguatan demokrasi tidak bisa dilakukan tanpa dukungan penuh dari seluruh pihak, termasuk lembaga pemerintah maupun swasta. Ia memberikan materi terkait etika politik, pengawasan pemilu, hingga kerawanan yang kerap muncul dalam proses berdemokrasi. Menurutnya, demokrasi yang sehat harus dijalankan secara jujur, damai, dan tanpa konflik.
Ia juga mengungkapkan bahwa tahun 2025 merupakan awal pembentukan Kader Demokrasi di Kota Probolinggo. “Di tahun 2026, program ini akan mulai berjalan dengan lebih terstruktur melalui program jangka pendek, menengah, dan panjang,” ujarnya.
Materi terakhir disampaikan oleh Ketua Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pembangunan (LPKP) Kota Probolinggo, Sukardi Mitho. Ia menegaskan bahwa pemilih pemula harus memahami demokrasi tidak hanya sebagai peserta pemilu, tetapi sebagai agen perubahan.
“Pemilih pemula harus bisa mengkonsolidasi diri, memahami isu demokrasi dan berperan aktif tanpa harus selalu didorong oleh penyelenggara. Demokrasi harus diikuti dengan cara yang damai, santun dan tanpa konflik,” tegasnya.
Sukardi juga mendorong terbentuknya komunitas demokrasi di kalangan pelajar yang terorganisir dengan baik, sehingga mampu menjadi ruang pembelajaran politik yang berkelanjutan dan inklusif.
Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian Safari Pendidikan Politik 2025 dan turut dihadiri Wakil Wali Kota Probolinggo, Ina Dwi Lestari, yang memberikan penguatan terkait literasi demokrasi bagi generasi muda, khususnya pemilih pemula Pemilu 2029.
Ina menekankan bahwa generasi Z dan Alfa harus memahami demokrasi digital, mengingat interaksi mereka yang sangat dekat dengan media sosial. “Memang murni dari hati siapa yang kita pilih. Karena itulah disebut langsung, umum, bebas, dan rahasia. Di 2029, adik-adik akan membuat gebrakan pasti. Demokrasi ke depan tidak terlepas dari digitalisasi,” ujarnya.
Ina juga mengapresiasi struktur kader demokrasi yang telah dibentuk. Ia berharap program ini tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar menghasilkan kegiatan dan gagasan yang bermanfaat bagi pelajar.
“Saya berharap hasil kegiatan hari ini bukan hanya ambyar. Tapi program kerja itu berjalan, memberi manfaat, dan menjadi bekal bagi adik-adik untuk memahami pilihan politik ke depan,” tegasnya.
Dalam sesi tanya jawab, Ina juga memberikan hadiah kepada siswa yang berhasil menjawab pertanyaan mengenai esensi sosialisasi demokrasi, sekaligus memotivasi peserta agar lebih berani berpendapat.
Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kota Probolinggo, Sonhadji, menegaskan bahwa pembentukan kader demokrasi merupakan langkah konkret pemerintah dalam meningkatkan kualitas demokrasi lokal.
“Ini adalah ikhtiar pemerintah meningkatkan kualitas demokrasi. Anak-anak SMA/SMK/MA adalah pemilih pemula di 2029, sehingga mereka perlu mendapat pendidikan agar mampu mengajak teman-temannya ikut berpartisipasi,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan politik bukan untuk membuat generasi muda alergi terhadap politik, tetapi agar mereka memahami politik sebagai sarana menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui pemilihan pemimpin dan wakil rakyat.
“Tujuannya membentuk kader demokrasi sebagai penggerak di sekolah masing-masing. Ke depan, kader ini akan didampingi oleh Bakesbangpol, KPU, dan Bawaslu,” pungkasnya.
Reporter : Sayful
Sumber Berita : Kominfo Kota
