RPHPT Bayu Perkasa Probolinggo Gelar Pelatihan Pembuatan Bokasi Plus Trichoderma, Dorong Pertanian Ramah Lingkungan

0
IMG-20260506-WA0001
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli

Komunitas Regu Pengendali Hama Penyakit Tumbuhan (RPHPT) Bayu Perkasa Kabupaten/Kota Probolinggo menggelar pelatihan praktik pembuatan bokasi padat plus Trichoderma.

Kegiatan berlangsung di rumah Misnaton, Desa Kropak, Kecamatan Bantaran, Senin (4/5/2026), sebagai bagian dari upaya mendorong pertanian ramah lingkungan melalui pemanfaatan bahan organik lokal guna meningkatkan produktivitas pertanian.

Pelatihan tersebut diikuti seluruh anggota RPHPT Bayu Perkasa, Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Sekretaris Kecamatan Mohammad Anis bersama anggota Polsek dan Koramil Bantaran, Kepala Desa Kropak, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bantaran, hingga Bidang Peternakan Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo.

Ketua RPHPT Bayu Perkasa, Ika Ratmawati, mengatakan komunitas RPHPT diharapkan mampu menjadi pelopor gerakan pertanian berkelanjutan dengan mengedepankan pemanfaatan agens hayati serta menekan penggunaan bahan kimia sintetis.

โ€œKami berharap komunitas ini bisa menjadi wadah sekaligus pelopor dalam mengembalikan keseimbangan agroekosistem dengan memanfaatkan musuh alami dan agens hayati, serta mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis agar lingkungan tetap lestari dan berkelanjutan,โ€ ujarnya.

Ia juga berharap melalui pelatihan ini para anggota mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri dengan biaya lebih terjangkau dan hasil yang lebih optimal. โ€œSetelah pelatihan ini, diharapkan seluruh anggota semakin yakin dapat memproduksi pupuk sendiri dengan biaya murah dan hasil yang lebih baik,โ€ tambahnya.

Dukungan terhadap gerakan pertanian organik juga disampaikan Camat Bantaran Junaedi melalui Sekretaris Kecamatan Mohammad Anis. Ia menilai kegiatan tersebut penting dalam mengubah pola pikir petani agar tidak terus bergantung pada pupuk dan pestisida kimia.

โ€œKami berharap kegiatan ini mampu mengubah mindset petani untuk kembali menggunakan bahan organik, khususnya di wilayah Kecamatan Bantaran,โ€ ungkapnya.

Sementara itu, Kortikab POPT Pangan Hortikultura, Machmud, menegaskan bahwa sistem perlindungan tanaman harus berbasis Pengendalian Hama Terpadu (PHT), dengan menitikberatkan pada manajemen tanaman sehat serta pengayaan unsur organik.

โ€œSistem perlindungan tanaman harus berbasis PHT dengan mengutamakan tanaman sehat dan memperkaya kandungan organik tanah,โ€ tegasnya.

Koordinator BPP Bantaran, M. Teguh Aristo Adhi melalui PPL Desa Kropak, Eko Siswanto, turut menyampaikan dukungan penuh terhadap gerakan pertanian organik yang dinilai mampu menekan biaya produksi petani.

โ€œPenggunaan bahan kimia oleh petani sudah sangat tinggi dan berdampak pada tingginya biaya produksi. Karena itu kami mendukung penuh pertanian organik yang lebih ramah lingkungan dan hemat biaya,โ€ jelasnya.

Selain praktik pembuatan bokasi, pelatihan ini juga membahas pentingnya pemahaman kondisi cuaca terhadap perkembangan hama dan penyakit tanaman. Anggota RPHPT sekaligus pakar cuaca, Cipto Waluyo, menjelaskan bahwa faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya tanaman.

โ€œPerkembangan hama dan penyakit dipengaruhi oleh lingkungan, patogen, dan tanaman itu sendiri. Oleh karena itu, kondisi musim kemarau maupun penghujan perlu dipahami petani,โ€ terangnya.

Pelatihan dipandu langsung oleh Misnaton, petani Desa Kropak sekaligus anggota RPHPT Bayu Perkasa. Ia menjelaskan bahwa bokasi dibuat dari kombinasi kotoran ternak sapi atau kambing dengan jamur Trichoderma sp sebagai agens pengendali hayati untuk menekan patogen tular tanah.

โ€œKombinasi ini menghasilkan pupuk hayati yang kaya bahan organik, mampu memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan ketersediaan unsur hara,โ€ jelasnya.

Adapun bahan yang digunakan dalam pembuatan bokasi meliputi 1 ton kotoran ternak kering usia minimal tiga bulan, dedak 50 kilogram, serbuk gergaji 50 kilogram, molase satu liter, dekomposer satu liter, air 50 liter, dan Trichoderma. Seluruh bahan difermentasi selama 14 hari sebelum siap digunakan.

โ€œPenggunaannya cukup mudah, bisa dicampurkan sebagai media tanam atau diberikan satu genggam per lubang tanam sebagai pupuk dasar maupun tambahan,โ€ pungkasnya.


Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!