Penjaga Moral Nurani Bangsa, Kejujuran Jadi  Kompas Jurnalis

0
file_00000000b61881fb98f81236651dc961
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli.com

Di balik tegaknya panji Pro Jurnalismedia Siber terukir visi besar, keteguhan, dan perjuangan yang tidak sederhana. 

“Bukan sekadar menakhodai organisasi, tetapi juga mengangkat harkat dan martabat setiap insan Pers di seluruh penjuru Kota Probolinggo yang berjuluk Angin, Anggur, dan Mangga (Bayuangga),”ujar Ketua Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kota Probolinggo, M Hisbullah Huda, Jum’at (24/7/2026).

Pengorbanan,  keteguhan, dan dedikasi, lanjut Ko Huda panggilan akrabnya, yang telah mengantarkan Pro Jurnalismedia Siber menapaki babak penting dalam perjalanan sejarahnya. Berdiri tegak, satu barisan, dan dengan penuh kebanggaan membawa panjinya menuju masa depan yang lebih bermartabat.

Kebenaran tidak pernah mengenal versi baru, dan hati nurani tidak pernah tergantikan oleh mesin secanggih apapun. 

“Izinkan mengucapkan satu kalimat” Kemampuan teknologi tidak boleh melampaui kemajuan integritas”, tandasnya.

Begitu juga, kalimat ini bukan slogan, namun sebuah pilihan yang menentukan, apakah menjadi solusi perubahan atau menjadi Penjaga Peradaban.

Etika yang kokoh dan organisasi tidak pernah meninggalkan anggotanya. Itulah makna advokasi yang harus dibangun, hadir sebelum musibah itu datang yang mencegah pelanggaran sebelum muncul, berdiri paling depan ketika anggota membutuhkan perlindungan. 

“Karena organisasi di ukur dari seberapa kuat menjaga martabat setiap anggotanya,”tutur Ko Huda.

Tak hanya itu, Ko Huda menegaskan kemerdekaan Pers bukanlah hak istimewa yang diberikan kepada wartawan. Namun, jaminan kepada rakyat tidak kehilangan haknya untuk mengetahui kenyataan. Sebab, ketika Pers dibungkam, yang pertama kehilangan bukan wartawan, melainkan rakyat.

Ketika berita dibatasi, yang pertama dirugikan bukan media, melainkan demokrasi itu sendiri. Ketika fakta dikalahkan oleh ketakutan yang sudah terluka adalah keadilan. 

Oleh karena itu, marilah menjaga kemerdekaan Pers dengan cara yang paling bermartabat, bukan dengan kesombongan, merasa kebal terhadap kritik, melainkan dengan prinsip terhadap etika dengan setia kepada fakta, rendah hati, menerima koreksi, serta dengan keberanian mempertanggungjawabkan setiap karya jurnalis yang dihasilkan.

Pers yang merdeka belum tentu diperdaya, Pers dipercaya akan selalu menjaga kemerdekaannya.

Tidak sedang menghadapi revolusi teknologi, namun menghadapi revolusi peradaban. Seperti, mampu menyusun naskah dengan cepat. Mesin mampu menterjemahkan bahasa, dan komputer mampu menganalisa kekuatan data dalam hitungan detik.

Tidak ada teknologi yang mampu menggantikan hati nurani. Mesin tidak mengenal batas kasihan, dan algoritma tidak mengenal keadilan, kecerdasan buatan tidak mengenal tanggungjawab moral. Karena itu, jangan takut kecanggihan teknologi, tapi takutlah apabila wartawan kehilangan integritasnya. Sebab, teknologi hanya mempercepat apa yang ada di dalam diri seorang Jurnalis.

“Apabila Jurnalis jujur, teknologi akan mempercepat lahirnya sebuah nilai kebaikan. Sebaliknya apabila Jurnalis melahirkan kerusakan. Kemajuan teknologi tidak boleh melampaui kemampuan integritas. Kalimat ini harus menjadi budaya organisasi,”tegasnya.

Sekretaris Pro Jurnalismedia Siber Kota Probolinggo, Ide Farid Nasution menilai perjalanan baru hadirnya Pro Jurnalismedia Siber di Kota Probolinggo, ingin mengajak ikhtiar.

Pertama, menjadikan profesi sebagai kehormatan. Karena wartawan yang berhenti belajar sesungguhnya sedang meninggalkan profesinya sedikit demi sedikit. Kedua, menjadikan etika sebagai Mahkota. Karena kecepatan tidak lebih mulia daripada kebenaran. 

Ketiga, jadikan perlindungan hukum sebagai kepastian, tidak boleh anggota organisasi yang merasa sendirian ketika menjalani profesinya dengan benar. Keempat, menjadikan keamanan digital sebagai budaya. Karena menjaga data, semua informasi, dan komunikasi menjadi bagian dalam menjaga kepercayaan publik.

Kelima, menjaga persatuan sebagai kekuatan. Karena tidak ada organisasi mampu bertahan apabila anggotanya berjalan sendiri-sendiri.

“Tidak ada advokasi yang kuat tanpa solidaritas. Tidak ada solidaritas tanpa kepercayaan, dan tidak ada kepercayaan tanpa integritas,”tuturnya.

Demikian juga, Bangsa ini tidak membutuhkan wartawan paling cepat, melainkan yang dapat dipercaya. Bangsa ini membutuhkan berita yang ramai, tapi berita yang dapat dipertanggungjawabka. Karena tidak membutuhkan sensasi, tapi membutuhkan wartawan penebar Nurani. Karena sesungguhnya kepercayaan adalah Mahkota profesi wartawan. Sebuah mahkota itu jatuh, tidak mudah mengangkatnya kembali.

Untuk itu, sejarah bukan untuk menoleh kebelakang. Bukan pula menghitung sejauh apa telah melangkah, tetapi untuk menatap lebih dalam yang paling jujur dalam diri ketempat dimana hati nurani tidak pernah berdusta. 

Marilah bertanya kepada diri masing-masing”. Mengapa dulu memilih jalan hidup sebagai Jurnalis ???. Apakah semata untuk memiliki kartu Pers ???. Apakah hanya sekedar mengejar kecepatan memberitakan peristiwa???. Apakah hanya untuk memperoleh pengakuan, popularitas, atau tepuk tangan ???.

Tapi percaya, bukan itu alasan mimpi menggeluti profesi yang mulia. Memilih jalan ini, karena sejak awal menyakini bahwa kebenaran tidak boleh kehilangan suaranya. Percaya bahwa setiap jurnalis berhak memperoleh informasi yang benar. Memilih jalan ini karena sadar, tanpa Pers Berintegritas demokrasi akan kehilangan nuraninya.

Ketika suatu hari nanti, kebenaran mulai disamarkan, fakta mulai diputar balikan, kejujuran mulai diperjual belikan, dan keberanian mulai dibungkam oleh rasa takut, maka harus selalu ada ketegaran yang memilih tetap berdiri, tetap tenang, jernih, setiap kawan dengan fakta, berpihak pada hari ini, maka orang itulah sebagai sosok Wartawan Sejati.

Sebaliknya, jika Profesi Wartawan berhenti sebagai pekerjaan berubah menjadi pengabdian, berubah menjadi amanah, dan berubah menjadi kehormatan yang tidak dapat dibeli oleh jabatan, ditukar dengan kekuasaan, serta tidak ditawarkan dengan rasa takut.

Karena sesungguhnya seorang wartawan tidak diingat oleh sejarah karena seberapa banyak berita yang ditulis, para wartawan dikenang oleh sejarah karena teguh menjaga kebenaran. Karena kebenaran itu sendiri sedang menghadapi ujian. 

Namun ingatlah .!!!

Kebenaran tanpa ilmu akan menjadi sebuah kecerobohan. Ilmu tanpa integritas akan menjadi kesombongan. Integritas tanpa keberanian akan menjadi ketakutan.

Karena itu, seorang wartawan sejati harus mempersatukan Ilmu, integritas, dan keberanian. Tidak boleh satupun terkurangi. Tidak sedang berdiri sendiri, tapi mencari kebenaran itu sendiri.

Sebagai sesama anak Bangsa membutuhkan Pers yang kuat. Bukan yang kuat modalnya, teknologi, tapi Pers yang kuat dipercaya rakyatnya. Sebab, Pers yang kuat syarat demokrasi dan peradaban. 

Kalimat ini hendaknya menjadi arah dan langkah. Bahkan, sejarah tidak hanya bertanya “Apakah Pers layak dipercaya “???.

Bermimpi, ketika kehadiran Pro Jurnalismedia Siber di Kota Probolinggo yang terlintas dibenak masyarakat, bukan hanya sebuah organisasi, melainkan sebuah kehormatan, integritas, keberanian, rumah besar yang melindungi wartawan, membela wartawan, dan lebih dari itu menjadi sebuah Rumah Besar menjaga kepercayaan publik. Karena sesungguhnya kepercayaan Publik menjadi modal terbesar yang dimiliki Pers, bukan sekretariat atau kantor, jabatan, teknologi, bukan pula kekuasaan, melainkan kepercayaan yang tidak pernah diwariskan, dan harus diperjuangkan setiap hari, mulai setiap berita, kalimat, keputusan, dan etik.

Sejarah akan mengingat saat masa disinformasi terhubung lebih cepat daripada fakta. Masa teknologi terhubung cepat dari Kebijaksanaan, dan tekanan profesi wartawan lebih berat. Pro Jurnalismedia Siber memilih satu sikap, hadir, menjaga informasi, membela kebenaran, mengabdi kepada Bangsa dan rakyat.

Kelak anak-anak kita mungkin tidak akan bertanya, berapa banyak berita yang pernah ditulis. Mereka mungkin tidak akan bertanya berapa banyak penghargaan yang pernah diterima, tetapi mereka akan bertanya ‘apakah ada yang meninggalkan negeri ini menjadi seorang Jurnalis???. 

Apa yang pernah diperbuat., dan semuanya bisa menjawab dengan kepala tegak, tanpa ragu-ragu. Bahkan, tidak mewarisi rasa takut dan mewarisi keberanian, dan tidak mewariskan kebencian, tapi mewariskan kejujuran. Tidak mewariskan propaganda, tapi mewariskan kebenaran. Karena pada akhirnya Profesi Jurnalis tidak diukur dari seberapa banyak berbicara, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan untuk Bangsa.

Pro Jurnalismedia Siber punya tekad membawa wartawan yang lebih cerdas, berani, beretika, profesional, berintegritas, dan lebih setia kepada kepentingan Bangsa daripada kepentingan apapun. Karena kemajuan teknologi tidak boleh melampaui kemajuan integritas. Kemerdekaan Pers tidak boleh dipisahkan dari tanggungjawab moral dan kepercayaan publik tidak boleh dikhianati.

Menjaga pena agar tetap dipimpin oleh hati nurani. Menjaga Fakta agar tetap berdiri diatas kepentingan. Menjaga integritas agar tetap mulia daripada Popularitas, dan menjaga keberanian agar tidak pernah tunduk pada rasa takut. Sebab, Wartawan setia pada kebenaran, sesungguhnya selama itu pula harapan Bangsa akan tetap hidup.

“Pro Jurnalismedia Siber, Rumah Besar Wartawan Mari Jaga Pena Kita, Kehormatan Profesi, Kepercayaan Pers Indonesia. Sebab, kekuatan Pers menjaga kebenaran, dan sesungguhnya Pers sedang menjaga masa depan Bangsa. Ayo ditunggu bergabung Sahabat-Sahabat, Rumah Besar Wartawan “Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kota Probolinggo.

Penjaga Moral Nurani Bangsa,”pungkas Ide Farid Nasution.

Reporter : Sayful

Penulis : Ko Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!