Gowes Bakau to Bakau, Wali Kota Probolinggo Susuri Potensi Wisata Mangrove

0
1789217012_425c22b097363941acd3
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli.com

Kawasan pesisir dan hutan mangrove di Kota Probolinggo mulai dilirik sebagai salah satu ruang potensial untuk pengembangan wisata berbasis lingkungan. Upaya menggali potensi tersebut dilakukan Wali Kota Probolinggo Aminuddin dengan menjajal langsung jalur wisata Bakau to Bakau (B to B), Sabtu (12/9/2026).

Bersama kepala perangkat daerah dan jajaran Pemerintah Kota Probolinggo, Aminuddin mengikuti kegiatan gowes yang mengambil start dari Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL). Rombongan kemudian menyusuri Jalan Lingkar Utara sebelum masuk ke kawasan mangrove yang dikelola Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP).

Perjalanan dilanjutkan menyusuri track yang membentang di kawasan hutan bakau Kelurahan Ketapang hingga menuju Pantai Permata Pilang, Kecamatan Kademangan.

Tak sekadar bersepeda, kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk melihat secara langsung kondisi kawasan sekaligus memetakan sejumlah potensi yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata alam. Konsep yang ditawarkan menggabungkan ekowisata, olahraga, rekreasi serta pemberdayaan masyarakat sekitar.

Wali Kota Probolinggo Aminuddin mengatakan, jalur Bakau to Bakau memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi salah satu jalur wisata baru di Kota Probolinggo. Jalur tersebut memiliki panjang sekitar lima kilometer dan masih memungkinkan untuk diperluas.

“Hari ini (12/9) kami meninjau sekaligus mencoba track baru di Kota Probolinggo yang namanya Bakau to Bakau. Jadi dari bakau sebelah timur, kita menyusuri kawasan mangrove sampai ke bakau sebelah barat, hingga ke hutan bakau Pantai Permata. Kurang lebih jaraknya lima kilometer,” ujar Aminuddin.

Menurutnya, jalur tersebut nantinya tidak hanya diperuntukkan bagi aktivitas bersepeda. Kawasan itu juga dapat dikembangkan sebagai lintasan jogging, jalan santai, rute napak tilas maupun berbagai aktivitas wisata alam lainnya.

Aminuddin menyebut, pengembangan jalur B to B masih terbuka luas karena sejumlah bagian track dapat diperpanjang maupun ditata agar semakin nyaman digunakan masyarakat dan wisatawan.

Saat tiba di Pantai Permata Pilang, Aminuddin juga melihat langsung kondisi akses menuju bibir pantai. Saat ini akses tersebut masih harus ditempuh dengan berjalan kaki dan kondisinya cukup berlumpur. Selain itu, sejumlah bagian anjungan juga membutuhkan perbaikan karena terdapat kayu yang terlepas dan konstruksi yang dinilai kurang kokoh.

“Di Pantai Permata ini juga kita tinjau, jalurnya masih bisa kita lebarkan lagi sampai sekitar lima meter. Kita juga akan coba membuat semacam gazebo di tengah-tengahnya itu, sehingga nantinya kawasan ini bisa menjadi salah satu daya tarik wisata baru,” terangnya.

Ia menegaskan, pengembangan kawasan tersebut tidak semata-mata diarahkan pada pembangunan fisik. Pemerintah kota juga ingin memastikan keberadaan destinasi wisata baru memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat sekitar.

Karena itu, pembangunan nantinya akan diarahkan dengan konsep padat karya yang melibatkan masyarakat Kelurahan Pilang, termasuk Kelompok Masyarakat (Pokmas) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Sementara itu, Kepala DKPPP Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan, kawasan mangrove memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata baru yang mengedepankan kelestarian lingkungan sekaligus melibatkan masyarakat.

Menurutnya, Pemkot Probolinggo akan mendorong dukungan anggaran untuk melakukan pembenahan secara bertahap, termasuk penyiapan sarana dan prasarana di kawasan hutan mangrove.

“Terkait dengan itu (pengembangan), nantinya beliau akan menambah alokasi dana untuk kami untuk perbaikan-perbaikan di hutan mangrove sehingga ke depan kita bisa menambah destinasi wisata baru, ada sarana dan prasarana baru untuk kita siapkan nantinya di sana. Sehingga ini juga nantinya akan melibatkan masyarakat dan bisa ikut memutar pergerakan perekonomian masyarakat sekitar,” jelasnya.

Fitriawati berharap pengembangan kawasan mangrove nantinya tidak hanya menghadirkan alternatif tujuan wisata bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang bagi warga sekitar untuk terlibat dalam pengelolaan kawasan, penyediaan layanan wisata hingga pengembangan usaha ekonomi lokal.

Melalui konsep Bakau to Bakau, Pemerintah Kota Probolinggo berupaya mengintegrasikan potensi ekowisata mangrove dengan aktivitas olahraga, ruang rekreasi dan pemberdayaan masyarakat. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, kawasan tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu ikon wisata pesisir baru di Kota Probolinggo.

Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kota 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!