Putus Rantai Penularan TBC, UPT Puskesmas Sumberasih Gelar ACF di Pulau Gili Ketapang

0
Putus Rantai Penularan TBC, UPT Puskesmas Sumberasih Gelar ACF di Pulau Gili Ketapang
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli.com

Upaya menekan penyebaran penyakit tuberkulosis (TBC) terus dilakukan UPT Puskesmas Sumberasih melalui kegiatan “Active Case Finding” (ACF) TBC di Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, selama dua hari, Rabu (30/9/2026) dan Kamis (1/10/2026).

Kegiatan tersebut bertujuan menemukan kasus TBC secara aktif melalui pemeriksaan dan skrining masyarakat, baik yang mengalami gejala maupun yang belum menunjukkan tanda-tanda penyakit. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat penemuan kasus, penanganan pasien, sekaligus memutus mata rantai penularan TBC di lingkungan masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala UPT Puskesmas Sumberasih, dr. Mohammad Erfan Kafiluddin, menjelaskan bahwa ACF TBC merupakan upaya deteksi dini untuk mengidentifikasi masyarakat yang dicurigai terinfeksi tuberkulosis agar segera mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan penanganan sesuai standar.

Menurutnya, sejumlah gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan selama dua minggu atau lebih, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, keringat berlebih pada malam hari, serta demam yang kerap muncul pada malam hari.

“Melalui kegiatan ACF ini, kami melakukan skrining terhadap masyarakat yang memiliki gejala-gejala tersebut. Pemeriksaan juga dilengkapi dengan foto toraks atau rontgen dada untuk membantu mendeteksi kemungkinan adanya penyakit TBC,” jelas dr. Mohammad Erfan Kafiluddin.

Ia menambahkan, pemeriksaan tidak hanya berfokus pada keluhan yang dirasakan masyarakat, tetapi juga memperhatikan riwayat kontak dengan penderita TBC, baik anggota keluarga di rumah maupun orang-orang di lingkungan sekitar.

Apabila ditemukan warga yang dicurigai menderita TBC, petugas akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan dahak apabila diperlukan, guna memastikan diagnosis dan menentukan penanganan yang tepat.

Menurut dr. Erfan, deteksi dini sangat penting karena tidak semua penderita TBC menyadari kondisi kesehatannya. Bahkan, seseorang yang tidak menunjukkan gejala tertentu tetap berpotensi diketahui mengidap TBC setelah menjalani pemeriksaan.

Karena itu, kegiatan ACF diharapkan mampu menjangkau masyarakat yang selama ini belum pernah memeriksakan diri, sehingga kasus TBC dapat ditemukan lebih cepat dan pasien segera memperoleh pengobatan sesuai standar tata laksana tuberkulosis.

“Harapan kami, masyarakat yang bergejala maupun yang belum bergejala tetapi ternyata terdiagnosis TBC bisa terlayani dengan baik. Ketika ditemukan kasus yang harus diobati, penanganan dapat segera dilakukan agar penyakitnya tidak semakin berkembang dan penularannya bisa dicegah,” tegasnya.

Ia menilai, upaya tersebut sangat penting bagi masyarakat Desa Gili Ketapang yang memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi. Dengan jumlah penduduk yang diperkirakan mendekati 10.000 jiwa, risiko penularan penyakit menular seperti TBC perlu diantisipasi melalui pemeriksaan dan penanganan yang terarah.

Melalui pelaksanaan ACF TBC selama dua hari tersebut, UPT Puskesmas Sumberasih berharap semakin banyak kasus yang dapat terdeteksi sejak dini, sehingga masyarakat yang membutuhkan penanganan segera memperoleh pelayanan kesehatan.

“Dengan adanya kegiatan ini, mudah-mudahan penularan TBC di Pulau Gili Ketapang bisa dikurangi. Ketika kasus ditemukan dan pasien segera mendapatkan pengobatan, kita berharap mata rantai penularan TBC di masyarakat dapat diputus,” pungkas dr. Mohammad Erfan Kafiluddin.

Kegiatan ini menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian TBC, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tersebut.

Penulis : Sayful

   Editor : Yuris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!