Bupati Haris Hadiri Puncak Yadnya Kasada 2026, Dukung Kelestarian Tradisi Adat Tengger

0
WhatsApp-Image-2026-06-01-at-16.11.19-1536x1023
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli.com

Lautan pasir Gunung Bromo kembali menjadi saksi berlangsungnya salah satu tradisi sakral masyarakat Tengger. Ribuan umat Hindu Tengger dari berbagai daerah memadati kawasan Pura Luhur Poten Bromo, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, untuk melaksanakan ritual Yadnya Kasada 1948 Saka/2026 Masehi pada Senin (1/6/2026) dini hari. Prosesi yang sarat nilai spiritual dan budaya tersebut turut dihadiri Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris dan Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ.

Sejak dini hari, umat Hindu Tengger bergerak menuju Pura Luhur Poten dari berbagai titik keberangkatan, di antaranya gerbang Cemara Lawang dan kawasan Dingklik. Suasana religius begitu terasa ketika ribuan umat berjalan bersama menuju tempat suci yang berada di tengah hamparan lautan pasir Gunung Bromo.

Setibanya di Pura Luhur Poten, rangkaian ritual dimulai dengan mekakat pembuka, dilanjutkan pembacaan sejarah Kasada, Puja Stuti yang dipimpin para Dukun Pandita se-Kawasan Tengger, Mulunen hingga mekakat penutup atau wayon. Seluruh prosesi dijalankan dengan penuh kekhusyukan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus menjaga kelestarian tradisi leluhur masyarakat Tengger.

Yadnya Kasada tahun ini juga menjadi momentum penting dengan dilaksanakannya pengukuhan tiga Dukun Pandita baru. Ketiganya berasal dari Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura dan Desa Pandansari Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo serta Desa Sedaeng Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Sebelum dikukuhkan, para calon Dukun Pandita telah menjalani berbagai tahapan ujian adat dan spiritual yang ketat sebagai syarat untuk menjadi pemimpin keagamaan umat Hindu Tengger. Pengukuhan tersebut menandai kesiapan mereka dalam menjalankan tugas pelayanan keagamaan dan membimbing umat dalam berbagai ritual adat maupun keagamaan.

Setelah prosesi pengukuhan selesai, para Dukun Pandita memberikan pelayanan kepada umat yang akan melaksanakan ritual labuh sesaji ke Kawah Gunung Bromo. Prosesi labuh sesaji menjadi puncak pelaksanaan Yadnya Kasada, di mana masyarakat mempersembahkan hasil bumi, ternak, makanan dan berbagai sesaji sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan berkah, keselamatan dan kesejahteraan yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi Wasa.

Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris mengatakan Yadnya Kasada merupakan warisan budaya sekaligus warisan spiritual yang memiliki nilai luhur dan harus terus dijaga keberlangsungannya oleh seluruh elemen masyarakat.

“Tradisi semacam ini harus dilestarikan dan dipertahankan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat penting sebagai warisan budaya, sekaligus harus ditransformasikan kepada generasi penerus agar tetap hidup dan berkembang di masa yang akan datang,” kata Bupati Haris.

Menurutnya, Yadnya Kasada bukan hanya menjadi simbol spiritual masyarakat Tengger, tetapi juga menjadi identitas budaya yang memperkaya keberagaman bangsa Indonesia. Karena itu, pelestarian tradisi tersebut menjadi tanggung jawab bersama agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Sementara Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto menjelaskan bahwa pengukuhan Dukun Pandita merupakan salah satu bagian penting dalam rangkaian pelaksanaan Yadnya Kasada.

“Rangkaian Yadnya Kasada diawali dengan berbagai tahapan ritual, termasuk ujian calon Dukun Pandita kawasan Tengger. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, mereka kemudian dikukuhkan untuk menjalankan tugas pelayanan keagamaan kepada umat,” ujarnya.

Bambang menambahkan, keberadaan Dukun Pandita memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga keberlangsungan adat istiadat, tradisi dan nilai-nilai spiritual masyarakat Tengger. Selain memimpin berbagai ritual keagamaan, mereka juga berperan sebagai pengayom dan pembimbing umat dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya, melalui Yadnya Kasada dan pengukuhan Dukun Pandita ini, keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama serta manusia dengan alam dapat terus terjaga. Dengan demikian kehidupan yang damai, sejahtera dan selaras akan senantiasa terwujud di tengah masyarakat,” tambahnya.

Yadnya Kasada hingga kini tetap menjadi salah satu agenda budaya dan keagamaan terbesar masyarakat Tengger yang selalu menarik perhatian masyarakat luas, wisatawan maupun pemerhati budaya. Selain sarat akan nilai spiritual, tradisi ini juga menjadi simbol kuat pelestarian budaya leluhur yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas masyarakat Tengger di kawasan Gunung Bromo.

Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!