Kota Probolinggo Jadi Daerah Percontohan Proyek InCircular, Dorong Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah
Surabaya, Radarpatroli.com
Kota Probolinggo menjadi salah satu dari lima daerah di Jawa Timur yang dipercaya sebagai daerah percontohan proyek Promoting a Circular Economy in Indonesia (InCircular). Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat implementasi ekosistem ekonomi sirkular sebagai agenda prioritas pembangunan menuju Ekonomi Hijau dalam RPJMN 2025–2029.

Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari menghadiri peluncuran proyek tersebut yang dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak di Hotel DoubleTree by Hilton Surabaya, Selasa (15/9/2026).
Selain Kota Probolinggo, empat daerah lain yang menjadi percontohan yakni Kabupaten Gresik, Kota Malang, Kabupaten Malang dan Sidoarjo.
Proyek InCircular merupakan kerja sama teknis antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Federal Jerman melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas). Pelaksanaannya dilakukan bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia & ASEAN.
Terpilihnya Jawa Timur sebagai salah satu provinsi percontohan dinilai menjadi kepercayaan sekaligus peluang strategis untuk memperkuat transformasi pembangunan yang lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya, rendah limbah dan berkelanjutan.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, pengelolaan sampah masih menjadi salah satu tantangan penting di Jawa Timur. Timbulan sampah di Jawa Timur mencapai sekitar 6,5 juta ton per tahun, namun baru sekitar 25 persen yang terkelola secara optimal.
Menurut Emil, persoalan tersebut bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur. Tantangan lainnya meliputi kapasitas kelembagaan, konsistensi pemilahan sampah dari sumber, dukungan pembiayaan, hingga keterlibatan aktif masyarakat dan dunia usaha.
“Melalui ekonomi sirkular, kita mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi timbulan sampah sejak dari sumber, serta memperkuat pemanfaatan kembali dan daur ulang,” ungkapnya.
Emil menegaskan, masing-masing daerah memiliki potensi sekaligus tantangan yang berbeda. Karena itu, kerangka berpikir dan kondisi dari lima daerah percontohan perlu dipaparkan agar implementasi InCircular dapat melahirkan solusi yang sesuai dengan karakteristik daerah.
“Kelima daerah diharapkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengembangan model implementasi ekonomi sirkular yang konkret, terukur, dan sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah,” tuturnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Teguh Sambodo mengapresiasi komitmen bersama lima kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Menurutnya, pengukuhan komitmen tersebut menjadi langkah penting untuk menerjemahkan visi pembangunan nasional ke dalam aksi nyata di tingkat daerah.
“Membangun ekonomi sirkular dibutuhkan visi dan aksi bersama. Pemerintah daerah berperan penting menerjemahkan arah pembangunan nasional ke dalam kebijakan, sistem, layanan dan inovasi yang sesuai dengan daerah,” ungkap Leonardo.
Dukungan juga disampaikan Thomas Foerch selaku Director Urban Development Cluster GIZ Indonesia & ASEAN. Ia mengatakan, Pemerintah Jerman telah bekerja sama dengan Indonesia selama 50 tahun, salah satunya dalam sektor ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah yang menjadi sektor prioritas.
“Kami mendukung pengelolaan sampah di Indonesia,” ujarnya.
Thomas menilai Pemerintah Provinsi Jawa Timur memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah sekaligus pengembangan kapasitas. Komitmen kuat pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Timur juga menjadi modal penting dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Ia optimistis kerja sama melalui proyek ekonomi sirkular dapat memberikan hasil positif. Sebab, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi serta solusi yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Kota Probolinggo sebagai salah satu daerah percontohan proyek InCircular.
Ina memaparkan, Kota Probolinggo saat ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 244.419 jiwa dengan pertumbuhan penduduk sekitar 0,45 persen. Dari kondisi tersebut, timbulan sampah di Kota Probolinggo mencapai sekitar 122 ton per hari.
“77 persen terkelola, sedangkan 23 persen belum terkelola,” jelas Ina.
Kota Probolinggo juga telah memiliki satu offtaker RDF (Refuse Derived Fuel) sebagai bagian dari upaya pemanfaatan sampah.
Selain itu, Pemerintah Kota Probolinggo telah menjalankan sejumlah program untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Di antaranya program satu RW satu bank sampah serta satu RW satu kendaraan roda tiga.
Pemkot Probolinggo juga mendorong pengurangan sampah plastik melalui kebijakan Wali Kota berupa surat edaran agar pusat perbelanjaan tidak menyediakan kantong plastik sekali pakai atau tas kresek.
“Tentu saja Pemerintah Kota Probolinggo menyambut baik percontohan proyek untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah ini,” jelas Ina.
Dalam kegiatan tersebut, Ina didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Agus Dwiwantoro, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUP) Agus Efendi, Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Retno Wandansari serta perwakilan Baperida Kota Probolinggo.
Melalui keterlibatan dalam proyek InCircular, Kota Probolinggo diharapkan dapat memperkuat berbagai inisiatif pengelolaan sampah yang telah berjalan sekaligus mengembangkan model ekonomi sirkular yang sesuai dengan kondisi daerah dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Reporter : Sayful
Sumber Berita : Kominfo kota
