Jalan Sehat Bersarung Meriahkan Hari Santri Nasional 2026, Bupati Haris Tekankan Pentingnya Identitas dan Akhlak

0
WhatsApp-Image-2026-10-18-at-14.15.11-1-1536x1024
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli.com

Semangat kebersamaan dan nilai-nilai pesantren mewarnai kegiatan Jalan Sehat Bersarung yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Kraksaan bersama Pondok Pesantren Raudlatul Jannah, Minggu (18/10/2026). Kegiatan yang dipusatkan di wilayah Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026.

Mengusung tema “Ikhtiar Sehat, Menjunjung Adab, Merawat Ukhuwah”, kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari kalangan santri dan masyarakat. Selain mengajak peserta menjaga kebugaran tubuh, jalan sehat tersebut menjadi momentum untuk memperkuat identitas santri, menanamkan nilai-nilai akhlak, serta mempererat tali silaturahmi antara lingkungan pesantren, pemerintah dan masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris, Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo M. Zubaidi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo Samsur, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Jannah Habib Ali Zainal Abidin, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Mahdi, serta Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto.

Turut hadir Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan KH. Chafidzul Hakiem Noer bersama sejumlah alim ulama dan Camat Gending Winda Permata Erianti.

Jalan Sehat Bersarung dimulai dari Pondok Pesantren Raudlatul Jannah dan berakhir di Lapangan Desa Jatiadi, Kecamatan Gending. Setelah dilepas dari titik pemberangkatan, peserta bergerak ke arah barat, kemudian ke selatan melewati Desa Brumbungan Lor. Rute dilanjutkan ke arah timur melewati Desa Suko, Kecamatan Maron, sebelum akhirnya berbelok ke utara menuju garis finis di Lapangan Desa Jatiadi.

Sepanjang perjalanan, peserta mengikuti kegiatan dengan mengenakan sarung sebagai simbol identitas khas santri. Suasana kebersamaan tersebut mencerminkan eratnya hubungan antara tradisi pesantren dan kehidupan masyarakat, sekaligus menjadi pengingat bahwa nilai-nilai keagamaan tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Bagi kalangan pesantren, sarung bukan sekadar pakaian sehari-hari, melainkan bagian dari tradisi yang merepresentasikan kesederhanaan, kedekatan dengan lingkungan pesantren, serta nilai-nilai perjuangan para ulama dan santri dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris dalam kesempatan tersebut mengajak generasi santri untuk terus menjaga identitas, nilai keislaman, dan akhlak mulia. Menurutnya, tradisi bersarung memiliki makna lebih luas daripada sekadar penggunaan pakaian, karena di dalamnya terdapat nilai sejarah dan jati diri yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Bersarung ini tidak hanya sekadar memakai pakaian sederhana, tetapi merupakan sebuah identitas. Identitas santri yang harus kita jaga, karena santri tidak hanya belajar agama, tetapi juga harus memahami perjuangan para ulama dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia,” kata Haris.

Ia menegaskan, peringatan Hari Santri Nasional hendaknya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap sejarah perjuangan ulama dan santri, sekaligus menumbuhkan semangat pengabdian kepada agama, bangsa dan negara.

Menurut Haris, pendidikan pesantren tidak membatasi ruang gerak santri dalam meraih cita-cita. Sebaliknya, bekal ilmu agama, kedisiplinan dan pembentukan karakter yang diperoleh di pesantren dapat menjadi landasan untuk berkiprah dalam berbagai bidang kehidupan.

“Santri itu bisa menjadi apa saja. Kalian boleh menjadi polisi, tentara, pengusaha, bupati, gubernur, bahkan presiden. Kalian juga bisa menjadi dokter, perawat dan profesi lainnya. Tetapi, jangan pernah melupakan identitas seorang santri, karena di dalamnya ada akhlak dan nilai-nilai yang harus dijaga,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi dorongan bagi para santri agar terus meningkatkan kualitas diri, memperluas wawasan, serta berani mengambil peran dalam pembangunan. Namun, pencapaian pendidikan dan karier harus tetap diimbangi dengan akhlak yang baik, sikap rendah hati, serta tanggung jawab sosial.

Haris juga menilai bahwa nilai-nilai yang ditanamkan di lingkungan pesantren merupakan bekal penting dalam membentuk generasi muda yang berintegritas dan bermanfaat bagi masyarakat. Kemampuan intelektual dan keberhasilan dalam berbagai profesi, menurutnya, perlu berjalan seiring dengan pengamalan ajaran agama.

“Kemajuan dan keberhasilan santri di berbagai bidang harus tetap diiringi dengan pengamalan nilai agama dan akhlak yang baik,” lanjutnya.

Selain menekankan pentingnya pendidikan dan karakter santri, Bupati Haris turut mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban di Kabupaten Probolinggo. Ia mengingatkan pentingnya kepedulian seluruh elemen masyarakat dalam mencegah berbagai tindak kejahatan, termasuk penyalahgunaan narkoba dan pencurian.

Menurutnya, lingkungan yang aman dan kondusif membutuhkan keterlibatan bersama, baik dari pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, maupun masyarakat. Karena itu, semangat kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan diharapkan dapat terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berharap Kabupaten Probolinggo terus berkembang menjadi daerah yang aman, sejahtera dan diberkahi dalam setiap proses pembangunan. Semoga Kabupaten Probolinggo ke depan semakin aman, berkah dan barokah. Kami memohon doa dan dukungan masyarakat agar dapat menjalankan amanah dengan baik, sehingga Kabupaten Probolinggo menjadi daerah yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” harapnya.

Tidak hanya menghadirkan kegiatan olahraga bersama, panitia juga menyiapkan beragam hadiah hiburan bagi peserta yang mencapai garis finis. Hadiah utama berupa satu unit sepeda listrik menjadi salah satu daya tarik dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, tersedia layanan donor darah yang diselenggarakan melalui kolaborasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Probolinggo. Kehadiran layanan kemanusiaan tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam aksi sosial yang bermanfaat bagi sesama.

Dengan demikian, Jalan Sehat Bersarung tidak hanya menjadi sarana menjaga kesehatan dan mempererat persaudaraan, tetapi juga menghadirkan ruang untuk menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan yang melibatkan pesantren, pemerintah, tokoh agama dan masyarakat tersebut, semangat Hari Santri Nasional 2026 diharapkan dapat terus hidup melampaui perayaan tahunan. Para santri diharapkan mampu mempertahankan identitas dan tradisi pesantren, menjunjung tinggi adab, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan Kabupaten Probolinggo.

Pada akhirnya, identitas santri tidak hanya tercermin dari sarung yang dikenakan, tetapi juga dari perilaku, akhlak, ilmu dan pengabdian yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!