Kampung Marning Kedunggaleng, 47 UMKM Olah Jagung Tembus Pasar Luar Daerah
Probolinggo, Radarpatroli.com
Potensi ekonomi berbasis usaha rumahan terus tumbuh di Kelurahan Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Kampung Marning menjadi salah satu contoh berkembangnya industri olahan jagung yang tidak hanya menggerakkan perekonomian warga, tetapi juga mampu menjangkau pasar hingga berbagai daerah di Indonesia.

Potensi tersebut mendapat perhatian Ketua TP PKK Kota Probolinggo, dr. Evariani Aminuddin, saat melakukan gowes sekaligus mengunjungi Kampung Marning bersama pengurus dan anggota PKK, Minggu (18/10/2026) pagi.
Dalam kunjungan tersebut, dr. Evariani melihat secara langsung aktivitas produksi marning yang menjadi salah satu usaha unggulan masyarakat setempat. Ia menilai, pengembangan kampung tematik perlu diiringi dengan peningkatan produktivitas, perluasan pemasaran, serta penguatan ketahanan ekonomi keluarga.
Menurutnya, potensi usaha yang telah berkembang di tengah masyarakat harus terus didorong agar mampu memberikan manfaat lebih luas, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan warga.
“Salah satu yang kita kunjungi hari ini adalah produksi jagung marning, yakni usaha Jamudin yang cukup besar dan dikenal di Kota Probolinggo dan sekitarnya. Kita berharap Jamudin dapat memperluas pasar dan meningkatkan produksi dengan melibatkan masyarakat sekitar,” ujar dr. Evariani.
Ia juga berharap pelaku usaha yang telah berkembang dapat menjadi penggerak ekonomi lingkungan dengan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Terlebih, keberadaan Koperasi Merah Putih diharapkan dapat menjadi salah satu peluang untuk memperkuat kegiatan ekonomi berbasis masyarakat.
Selain peningkatan kapasitas produksi, dr. Evariani menekankan pentingnya pemasaran digital dalam memperluas jangkauan konsumen. Keterlibatan generasi muda dinilai dapat membantu pelaku UMKM mengembangkan strategi promosi dan bisnis yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ia berharap, pengembangan UMKM di Kampung Marning dapat menjadi bagian nyata dari implementasi program Probolinggo Bersolek. Program tersebut tidak hanya berkaitan dengan penataan dan keindahan lingkungan, tetapi juga mendorong masyarakat menjadi lebih produktif, guyub, serta memiliki ketahanan ekonomi keluarga.

Sementara itu, Camat Wonoasih, Eko Candra Wirawan, menjelaskan bahwa wilayahnya memiliki enam kelurahan dengan karakteristik dan keunikan kampung tematik yang berbeda-beda.
Sejumlah wilayah mengembangkan potensi industri rumahan, seperti usaha tempe dan marning. Ada pula kelurahan yang mengoptimalkan potensi lingkungan maupun mengangkat sektor pariwisata lokal sebagai daya tarik wilayah.
Keberagaman tersebut menjadi modal bagi Kecamatan Wonoasih untuk mengembangkan potensi ekonomi berdasarkan keunggulan masing-masing kelurahan.
Senada dengan itu, Lurah Kedunggaleng, Mohammad Yusup, mengungkapkan bahwa usaha marning telah menjadi salah satu aktivitas ekonomi yang banyak ditekuni masyarakat setempat. Tercatat sekitar 47 UMKM bergerak dalam usaha marning di wilayah Kedunggaleng.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa industri olahan jagung memiliki peran penting dalam menopang perekonomian warga. Selain menjadi sumber penghasilan keluarga, usaha tersebut juga membuka peluang kerja dan mendukung perputaran ekonomi di lingkungan setempat.
Salah satu usaha dengan kapasitas produksi cukup besar berada di kediaman Taufiq, warga RT 01/RW 04. Usaha keluarga tersebut mampu mengolah sekitar 50 kilogram jagung pipil setiap hari.
“Kami berharap potensi ini terus berkembang dan semakin dikenal masyarakat luas,” ungkap Mohammad Yusup.
Pemilik usaha, Taufiq, menceritakan bahwa usaha marning yang dikelolanya merupakan usaha keluarga yang telah dirintis sejak 2003. Kini, usaha tersebut telah memasuki generasi kedua dan terus bertahan di tengah perkembangan pasar.
Dalam kegiatan produksinya, Taufiq menggunakan empat dandang sebagai standar pengolahan. Setiap hari, sedikitnya 50 kilogram jagung pipil diproses untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Menariknya, permintaan konsumen tidak hanya datang dari pembeli produk marning matang. Produk setengah jadi berupa jagung pipil yang telah melalui proses pengolahan justru menjadi salah satu komoditas yang banyak diminati.
“Permintaan paling banyak justru untuk marning mentah atau jagung pipil yang sudah diolah itu. Pesanannya datang dari luar kota, seperti Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Tengah, Tasikmalaya, Tangerang, hingga Cirebon juga ada,” terang Taufiq.
Jangkauan pemasaran tersebut menunjukkan bahwa produk olahan jagung dari Kedunggaleng memiliki peluang untuk terus berkembang. Selain memenuhi kebutuhan pasar lokal, usaha marning juga mampu menjangkau konsumen dari berbagai wilayah di luar Jawa Timur.
Proses pembuatan marning membutuhkan waktu dan tahapan yang cukup panjang. Jagung terlebih dahulu direbus selama puluhan jam, kemudian diproses berulang kali hingga mengembang. Setelah melewati tahapan pengolahan, bahan tersebut dijemur sebelum dipasarkan sebagai marning mentah atau diolah lebih lanjut menjadi produk matang.
Produk marning matang yang dipasarkan Taufiq dikenal dengan nama Jamudin.
Dari sisi harga, marning mentah atau jagung pipil yang telah diolah dijual sekitar Rp17.000 per kilogram. Sementara itu, produk marning matang dikemas dalam ukuran 250 gram dengan harga Rp12.000 hingga Rp13.000.
Jika dihitung per kilogram, harga marning matang berkisar Rp48.000 sampai Rp52.000 berdasarkan harga kemasan tersebut, dengan nilai penjualan yang juga dipengaruhi perubahan harga minyak goreng dan biaya produksi.
Dalam satu bulan, Taufiq menyebut kapasitas produksinya dapat mencapai sekitar satu ton. Untuk menghasilkan volume tersebut, dibutuhkan modal kurang lebih Rp8 juta per ton produksi.
Saat ini, kegiatan usaha tersebut melibatkan empat hingga lima pekerja yang berasal dari keluarga dan warga sekitar. Keterlibatan tenaga kerja lokal menjadi salah satu bentuk kontribusi usaha marning dalam membuka kesempatan kerja di lingkungan Kedunggaleng.
Untuk memperluas pasar, Taufiq mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Ia mengelola akun Facebook bernama Kampung Marning guna memudahkan calon pembeli dari berbagai daerah memperoleh informasi mengenai produk dan melakukan pemesanan.
Pemanfaatan kanal digital menjadi langkah penting bagi usaha rumahan untuk memperkenalkan produk secara lebih luas tanpa hanya bergantung pada pemasaran konvensional.
Taufiq juga menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan Pemerintah Kota Probolinggo kepada pelaku UMKM. Salah satu bantuan yang pernah diterimanya berupa mesin molen atau “corn peeler” untuk membantu memisahkan jagung dari kulitnya.
“Alhamdulillah, Pemkot Probolinggo juga selalu mendukung kami sebagai pelaku UMKM. Saya juga pernah mendapatkan bantuan mesin molen atau corn peeler untuk memisahkan jagung dari kulitnya. Bantuan tersebut sangat membantu proses produksi kami,” katanya.
Menurut Taufiq, permintaan produk marning biasanya meningkat menjelang bulan Ramadan hingga Idulfitri. Momentum tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas jaringan pemasaran.
Dengan dukungan peralatan, pemasaran digital, dan keterlibatan tenaga kerja lokal, usaha marning di Kedunggaleng memiliki peluang untuk terus dikembangkan agar mampu menjawab permintaan pasar yang semakin luas.
Keberadaan sekitar 47 UMKM marning menjadi modal penting bagi Kelurahan Kedunggaleng dalam memperkuat identitasnya sebagai Kampung Marning. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui peningkatan kualitas produk, penguatan promosi digital, perluasan jaringan distribusi, serta kolaborasi antarpelaku usaha.
Pengembangan kampung tematik juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pengurus PKK, pelaku UMKM, hingga generasi muda yang dapat berkontribusi dalam pemasaran dan pengembangan usaha.
Melalui kunjungan tersebut, Ketua TP PKK Kota Probolinggo, dr. Evariani Aminuddin, mendorong agar Kampung Marning tidak hanya dikenal sebagai sentra produksi makanan olahan jagung, tetapi juga tumbuh menjadi kawasan ekonomi produktif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dengan potensi produksi yang telah berjalan, pasar yang menjangkau luar daerah, serta puluhan UMKM yang terlibat, Kampung Marning Kedunggaleng memiliki peluang untuk terus berkembang sebagai salah satu penggerak ekonomi lokal dan penguat ketahanan keluarga di Kota Probolinggo.
Reporter : Sayful
Sumber Berita : Kominfo Kota
