Sinergi Rutan Kraksaan Dan MUI, Bangun Karakter Warga Binaan Lewat Nilai Puasa

0
IMG-20260225-WA0058
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli 

Upaya membentuk karakter dan memperkuat mental warga binaan terus dilakukan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kraksaan melalui pendekatan keagamaan. Salah satunya dengan menggandeng Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Probolinggo dalam kegiatan pembinaan yang digelar Rabu (25/2/2026), dengan fokus pada pemahaman puasa dalam perspektif Islam sebagai bekal pembinaan spiritual menjelang Ramadan.

Pembinaan yang berlangsung di lingkungan rutan itu diikuti secara khidmat oleh para warga binaan. Suasana penuh kekhusyukan tampak saat materi disampaikan, terlebih menjelang datangnya bulan suci Ramadan yang menjadi momentum refleksi dan perbaikan diri.

Kepala Rutan Kraksaan, Galih Setiyo Nugroho, mengatakan bahwa pembinaan spiritual merupakan elemen penting dalam proses pemasyarakatan. Menurutnya, pembinaan tidak hanya berorientasi pada aspek hukum dan kedisiplinan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan mental warga binaan.

“Puasa mengajarkan kesabaran, kejujuran dan pengendalian diri. Nilai-nilai inilah yang sangat relevan dalam proses pembinaan warga binaan. Kami berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran untuk berubah dan memperbaiki diri secara sungguh-sungguh,” ujarnya.

Ia menambahkan, sinergi dengan MUI menjadi bagian dari komitmen Rutan Kraksaan untuk menghadirkan program pembinaan yang komprehensif, menyentuh aspek keagamaan, moral, serta sosial warga binaan agar proses reintegrasi ke masyarakat berjalan lebih baik.

Sementara itu, anggota Komisi Dakwah dan Ukhuwah Islamiyah MUI Kabupaten Probolinggo, KH. Masrur Rabitullah As’ad, dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa puasa bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan sarana pendidikan jiwa dan pembentukan moral yang mendalam.

“Puasa adalah madrasah kehidupan. Ia melatih kita menahan hawa nafsu, memperkuat empati dan mendekatkan diri kepada Allah. Bagi warga binaan, ini adalah kesempatan emas untuk menjadikan masa pembinaan sebagai proses hijrah menuju pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, ia juga mengajak warga binaan untuk memaknai puasa secara utuh, tidak hanya dari sisi fikih, tetapi juga dari dimensi spiritual dan sosial. Pengendalian diri, kepekaan terhadap penderitaan sesama, serta peningkatan kualitas ibadah menjadi bagian dari transformasi diri yang diharapkan tumbuh selama menjalani masa pembinaan.

Melalui pembinaan keagamaan yang berkelanjutan, Rutan Kraksaan berharap warga binaan dapat menjadikan masa pidana sebagai momentum introspeksi dan perbaikan diri. Dengan bekal keimanan yang lebih kuat serta karakter yang lebih baik, mereka diharapkan siap kembali ke tengah masyarakat dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna setelah bebas nanti.

Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!