Inovasi Pendidikan, Probolinggo Sukses Terapkan Kelas Rangkap Di Ratusan Sekolah
Batu, Radarpatroli.com –
Langkah progresif terus ditunjukkan Kabupaten Probolinggo dalam mendorong transformasi pendidikan berbasis kebutuhan daerah. Salah satunya melalui penguatan pembelajaran kelas rangkap (multigrade) yang kini mendapat pengakuan sebagai model percontohan nasional, seiring partisipasi aktif Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) dalam kegiatan Training of Facilitator (TOF) tingkat nasional di Gedung BBGTK Provinsi Jawa Timur, Kota Batu, pada 13–15 April 2026.

Sebagai daerah percontohan, Kabupaten Probolinggo juga menjadi lokasi kunjungan lapangan bagi peserta TOF nasional. Pada 16 April 2026, para peserta dijadwalkan mengunjungi enam sekolah penyelenggara kelas rangkap di wilayah Kecamatan Sukapura untuk melihat langsung praktik pembelajaran di lapangan. Hal ini semakin memperkuat posisi Kabupaten Probolinggo sebagai rujukan nasional dalam implementasi pembelajaran multigrade.
Dalam kegiatan tersebut, Disdikdaya mengirimkan 11 fasilitator yang terdiri dari pengawas, kepala sekolah dan guru sebagai bagian dari tim pengembang kelas rangkap daerah. Mereka bergabung bersama peserta dari 33 provinsi di Indonesia serta berbagai perwakilan daerah lainnya di Jawa Timur.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Nunuk Suryani selaku Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Kepala BBGTK Jawa Timur Abu Khaer, Deputy Program Director Education Policy, Performance and Learning INOVASI Ingga Danta Vistara serta Provincial Manager INOVASI Jawa Timur M. Adri Budi.
Deputy Program Director INOVASI, Ingga Danta Vistara, menegaskan bahwa pembelajaran kelas rangkap merupakan solusi strategis yang tidak hanya menjawab keterbatasan jumlah guru dan sarana, tetapi juga mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih inklusif dan berpusat pada murid.
“Pembelajaran kelas rangkap bukan sekadar solusi atas keterbatasan, tetapi juga strategi untuk memastikan setiap anak tetap mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu, sesuai dengan kebutuhannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini telah terbukti memberikan dampak positif di berbagai negara, termasuk Indonesia, khususnya pada satuan pendidikan di wilayah terpencil dengan jumlah peserta didik terbatas. Oleh karena itu, peran berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, dinas pendidikan hingga satuan pendidikan sangat penting dalam mendukung implementasi kelas rangkap.
Menurutnya, pendampingan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan. “Pendampingan yang sistematis, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan hingga refleksi, sangat penting agar praktik pembelajaran kelas rangkap dapat berjalan efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Penguatan kapasitas guru juga dilakukan melalui skema berkelanjutan seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) serta pendampingan langsung melalui pola In Service (IN) dan On Service (ON). “Kami berharap praktik baik ini dapat direplikasi secara luas dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan di daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono menyampaikan bahwa pembelajaran kelas rangkap merupakan strategi inovatif yang mampu menjawab berbagai tantangan pendidikan, khususnya keterbatasan guru dan sarana prasarana.
“Penerapan kelas rangkap tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran. Model ini mampu meningkatkan motivasi siswa dan guru, sekaligus memudahkan guru dalam mengelola pembelajaran meskipun dalam satu ruangan terdapat dua jenjang kelas,” ungkapnya.
Hary menambahkan, model ini juga berperan dalam membentuk karakter siswa, meningkatkan kepercayaan diri, serta menciptakan mekanisme tutor sebaya yang efektif. Selain itu, pemanfaatan ruang belajar menjadi lebih optimal karena dapat dialihfungsikan untuk kebutuhan lain seperti perpustakaan, ruang guru maupun UKS.
Dalam implementasinya, Disdikdaya telah melakukan berbagai langkah strategis, mulai dari Training of Trainers (TOT), workshop literasi dan numerasi hingga berbagi praktik baik antar guru dalam pengelolaan kelas multigrade. Refleksi bersama juga terus didorong guna membangun paradigma pembelajaran yang lebih adaptif dan inklusif.
Perjalanan program ini di Kabupaten Probolinggo dimulai sejak 2018 dengan delapan lembaga sebagai pilot project di Kecamatan Sukapura. Hingga tahun 2024, program ini telah berkembang pesat dan diterapkan di 185 lembaga pendidikan.
Dari sisi dampak, peserta didik mengalami peningkatan interaksi sosial, kemampuan intelektual serta tumbuhnya empati melalui sistem tutor sebaya. Selain itu, program ini juga memberikan efisiensi anggaran, baik dalam rekrutmen tenaga pendidik maupun pembangunan sarana prasarana.
“Melalui pembelajaran kelas rangkap, kita tidak hanya mengatasi kekurangan guru, tetapi juga meningkatkan kompetensi guru, mengaktifkan KKG serta memperkuat kinerja satuan pendidikan melalui supervisi berkelanjutan,” jelasnya.
Hary menegaskan bahwa keberhasilan program ini juga tidak lepas dari peran aktif masyarakat, khususnya melalui kegiatan parenting untuk memberikan pemahaman kepada wali murid agar tidak terjadi miskonsepsi terhadap penggabungan kelas.
“Pembelajaran kelas rangkap adalah solusi efektif dan efisien yang relevan diterapkan, terutama di daerah dengan keterbatasan. Bahkan, pendekatan ini mampu menciptakan proses belajar yang aktif, menyenangkan serta mendorong siswa lebih berani berpendapat dan saling menghargai,” pungkasnya.
Reporter : Sayful
Sumber Berita : Kominfo Kab.
