Anggota Komisi III DPRD Kota Probolinggo Saiful Iman Soroti Bus Karyawan Bertulisan Tak Pantas, Minta Segera Ditarik Dari Jalan

0
281a4446-dd3d-4956-988a-119a945ad488
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli.com

Anggota Komisi III DPRD Kota Probolinggo dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Saiful Iman, menyoroti keberadaan sebuah bus pengangkut karyawan yang diduga memuat tulisan bernuansa tidak senonoh saat melintas di wilayah Kota Probolinggo. Menurutnya, keberadaan tulisan tersebut tidak mencerminkan etika di ruang publik dan berpotensi memberikan pengaruh buruk terhadap anak-anak yang setiap hari melihatnya. Senin (13/07/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Saiful Iman setelah dirinya melihat langsung sebuah bus berwarna merah yang digunakan sebagai kendaraan pengangkut karyawan PT Kutai Timber Indonesia (KTI). Pada bagian belakang bus, terdapat tulisan yang dinilai tidak layak untuk dipertontonkan kepada masyarakat umum.

Ia menegaskan, Kota Probolinggo selama ini dikenal sebagai Kota Layak Anak yang berkomitmen menciptakan lingkungan aman, nyaman, dan ramah bagi tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu, seluruh elemen masyarakat, termasuk perusahaan swasta, diharapkan turut menjaga suasana tersebut dengan tidak menampilkan tulisan maupun gambar yang bertentangan dengan norma kesopanan.

“Tadi pagi kebetulan saya melihat ada satu bus warna merah. Tulisannya menurut saya kurang elok untuk adik-adik kita. Sedangkan Kota Probolinggo ini adalah kota ramah anak. Dengan adanya bus, khususnya bus pengantar karyawan KTI, yang terdapat tulisan seperti itu, menurut saya sangat tidak pantas karena tulisannya bernuansa mesum,” ujar Saiful Iman.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele. Sebab, bus pengangkut karyawan tersebut setiap hari beroperasi di jalan raya yang dilalui berbagai kalangan masyarakat, termasuk anak-anak yang berangkat maupun pulang sekolah.

Ia mengaku khawatir tulisan tersebut akan menjadi konsumsi visual yang terus-menerus dibaca oleh anak-anak. Kondisi itu dinilai dapat memengaruhi cara berpikir mereka karena apa yang dilihat setiap hari akan mudah terekam dalam ingatan.

“Bayangkan kalau bus itu berada di depan, sementara adik-adik kita berada di belakangnya. Mau tidak mau mereka pasti membaca tulisan itu. Kalau setiap hari mereka membaca hal yang sama, tentu akan terekam dalam pemikiran mereka. Ini yang menjadi perhatian saya. Jangan sampai ruang publik justru dipenuhi tulisan yang tidak memberikan edukasi dan malah berdampak negatif bagi anak-anak,” katanya.

Saiful Iman menilai seluruh kendaraan yang beroperasi di jalan umum seharusnya memperhatikan nilai kesopanan dan etika. Ruang publik merupakan tempat yang digunakan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga setiap unsur yang tampil di dalamnya perlu memperhatikan norma sosial yang berlaku.

Menurutnya, menjaga lingkungan yang ramah anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh pihak, termasuk perusahaan yang memiliki armada operasional.

“Kalau kita ingin benar-benar mewujudkan Kota Probolinggo sebagai Kota Layak Anak, maka semua pihak harus ikut bertanggung jawab. Jangan sampai ada tulisan-tulisan yang mengarah pada hal-hal tidak pantas justru bebas beredar di jalan raya dan dilihat oleh anak-anak setiap hari,” tegasnya.

Karena itu, Saiful Iman berharap perusahaan segera melakukan evaluasi terhadap armada yang digunakan untuk mengangkut karyawan. Ia meminta agar bus yang memuat tulisan bernuansa mesum tidak lagi dioperasikan selama tulisan tersebut masih terpasang.

Ia menambahkan, apabila PT KTI masih membutuhkan armada untuk mengangkut para pekerjanya, perusahaan sebaiknya menggunakan kendaraan yang lebih layak serta bebas dari tulisan ataupun gambar yang bertentangan dengan norma kesusilaan.

“Harapan saya, bus yang ada kata-kata mesum itu jangan lagi dioperasikan. Kalau memang nanti KTI membutuhkan bus, mohon mencari bus yang benar-benar layak untuk berseliweran di jalan-jalan Kota Probolinggo. Jangan sampai ada tulisan yang tidak mendidik dan akhirnya dibaca oleh anak-anak kita setiap hari,” pungkas Saiful Iman.

Ia berharap persoalan tersebut dapat menjadi perhatian bersama sehingga ruang publik di Kota Probolinggo tetap menjadi lingkungan yang aman, nyaman, dan memberikan contoh positif bagi generasi muda. Menurutnya, menjaga citra Kota Layak Anak bukan hanya diwujudkan melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui kepedulian seluruh pihak dalam menciptakan lingkungan yang sehat secara sosial maupun moral.

Penulis : Sayful

   Editor : Yuris 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!