Delapan Tahun Berjalan, Pembelajaran Kelas Rangkap di SDN Wonokerto 2 Sukapura Buktikan Efektivitas Pendidikan di Kawasan Pegunungan

0
IMG-20260602-WA0040
Bagikan

Probolinggo, Radarpatroli.com – Keterbatasan jumlah siswa dan tenaga pendidik tidak menjadi hambatan bagi SDN Wonokerto 2 Kecamatan Sukapura untuk menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas. Melalui penerapan pembelajaran kelas rangkap (multigrade teaching) sejak tahun 2018, sekolah ini berhasil menciptakan sistem belajar yang efektif, kolaboratif dan efisien, sekaligus menjadi contoh bagi sekolah-sekolah dasar di wilayah pegunungan Kabupaten Probolinggo.

Model pembelajaran kelas rangkap diterapkan sebagai solusi atas kondisi sekolah yang memiliki jumlah peserta didik relatif sedikit dan keterbatasan tenaga guru. Dengan menggabungkan dua jenjang kelas dalam satu ruang belajar, proses pembelajaran tetap dapat berjalan optimal tanpa mengurangi kualitas pendidikan yang diterima siswa.

Kepala SDN Wonokerto 2 Ahmad Samhaji mengatakan sekolah yang dipimpinnya merupakan salah satu dari delapan sekolah dasar di Kecamatan Sukapura yang ditunjuk sebagai pilot project pembelajaran kelas rangkap melalui Program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), sebuah kemitraan Indonesia-Australia di bidang pendidikan. Program tersebut kemudian diperkuat melalui SK Bupati Probolinggo Nomor 19 Tahun 2018.

Sebelum program dijalankan, para guru mendapatkan pelatihan dan pendampingan intensif dari fasilitator daerah guna mempersiapkan implementasi pembelajaran multigrade di sekolah masing-masing.

“Pembelajaran kelas rangkap di SDN Wonokerto 2 mulai kami laksanakan pada tahun 2018 setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari fasilitator daerah. Saat itu kami menjadi salah satu dari delapan sekolah dasar di Kecamatan Sukapura yang ditunjuk untuk menerapkan multigrade teaching,” kata Samhaji.

Menurutnya, keputusan menerapkan pembelajaran kelas rangkap didasarkan pada kondisi riil sekolah yang saat itu memiliki jumlah siswa kurang dari 50 orang. Bahkan, dalam satu tingkat kelas hanya terdapat empat hingga lima siswa sehingga pembelajaran konvensional dinilai kurang efektif.

“Jumlah murid kami saat itu sangat terbatas. Ada kelas yang hanya berisi empat hingga lima siswa. Dengan kondisi seperti itu, pembelajaran kelas rangkap menjadi pilihan yang paling tepat agar proses belajar tetap efektif dan siswa bisa belajar secara kolaboratif,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, siswa dari dua tingkat kelas belajar bersama dalam satu ruangan. Namun, pengelompokan belajar tidak lagi berdasarkan jenjang kelas, melainkan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.

“Kalau kelas 1 hanya lima siswa dan kelas 2 ada empat siswa, ketika digabung menjadi sembilan siswa kami bisa membentuk beberapa kelompok belajar. Pengelompokan dilakukan berdasarkan kemampuan, sehingga siswa dari kelas yang berbeda bisa berada dalam kelompok yang sama,” terangnya.

Sistem tersebut ternyata membawa dampak positif terhadap perkembangan sosial peserta didik. Interaksi yang sebelumnya hanya terjadi di lingkungan teman sekelas menjadi lebih luas karena siswa terbiasa berkomunikasi dan bekerja sama dengan kakak maupun adik kelas.

“Interaksi sosial siswa meningkat karena mereka terbiasa berkolaborasi dengan kakak maupun adik kelas. Anak-anak menjadi lebih terbuka untuk berdiskusi, bekerja sama dan saling membantu dalam proses pembelajaran,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, budaya senioritas yang kerap muncul di lingkungan sekolah juga dapat diminimalkan. Dengan intensitas interaksi yang tinggi antar siswa lintas kelas, hubungan yang terjalin menjadi lebih akrab dan harmonis.

“Dengan belajar bersama dalam satu kelas, rasa senioritas dan junioritas hampir tidak ada. Anak-anak lebih sering berinteraksi dan saling mengenal sehingga potensi bullying sangat minim,” ungkapnya.

Dari sisi akademik, penerapan tutor sebaya yang berlangsung secara alami turut memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Anak-anak yang lebih cepat memahami materi secara spontan membantu teman-temannya yang masih mengalami kesulitan belajar.

“Ketika ada siswa yang lebih cepat memahami materi, dia membantu temannya yang masih kesulitan. Tutor sebaya seperti ini sangat efektif meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi anak,” ujarnya.

Keuntungan lainnya juga dirasakan dalam pengelolaan tenaga pendidik. Dengan jumlah guru yang terbatas, sekolah tetap mampu menjalankan proses pembelajaran secara maksimal melalui pembagian kelas berdasarkan fase pembelajaran.

“Pengelolaan guru menjadi lebih efektif. Di sekolah multigrade cukup ada tiga guru kelas yang menangani fase A, fase B dan fase C. Ini tentu lebih mudah dibandingkan harus mengelola banyak guru dengan jumlah siswa yang relatif sedikit,” tegasnya.

Meski demikian, sistem ini menuntut kemampuan dan kreativitas guru yang lebih tinggi. Guru harus mampu mengelola dua tingkat kelas sekaligus, menyusun pembelajaran diferensiasi serta menyiapkan berbagai media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa yang beragam.

“Guru harus mampu merancang pembelajaran diferensiasi, menyiapkan media belajar untuk dua tingkat kelas yang berbeda serta mengelola proses pembelajaran dalam satu ruangan. Ini tantangan yang membuat guru menjadi lebih kreatif dan profesional,” tambahnya.

Penerapan pembelajaran kelas rangkap juga berdampak pada optimalisasi sarana dan prasarana sekolah. Karena hanya menggunakan tiga ruang kelas untuk pembelajaran fase A, B dan C, beberapa ruang lainnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang selama ini belum tersedia.

“Karena cukup menggunakan tiga ruang kelas untuk fase A, fase B dan fase C, ada tiga ruang yang tidak terpakai. Ruangan tersebut kemudian kami manfaatkan untuk mendukung kebutuhan sekolah,” katanya.

Saat ini ruang-ruang tersebut telah dialihfungsikan menjadi ruang guru, ruang kegiatan Pramuka dan ruang serbaguna yang digunakan untuk mendukung pembelajaran kreatif berbasis digital.

“Selama ini kami belum memiliki ruang guru, ruang kepala sekolah maupun ruang serbaguna yang memadai. Setelah menerapkan multigrade teaching, ruang kosong itu bisa kami manfaatkan sebagai ruang guru, ruang Pramuka dan ruang kreatif berbasis digital,” tuturnya.

Menurut Samhaji, kondisi tersebut sangat sejalan dengan semangat efisiensi yang saat ini terus didorong pemerintah dalam pengelolaan pendidikan. Pemanfaatan ruang yang lebih optimal memungkinkan sekolah memenuhi berbagai kebutuhan tanpa harus membangun fasilitas baru.

“Pembelajaran kelas rangkap sangat selaras dengan konsep efisiensi. Sekolah tidak perlu membangun ruang baru karena ruang yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal sesuai kebutuhan,” akunya.

Keberhasilan penerapan pembelajaran kelas rangkap di SDN Wonokerto 2 juga tidak lepas dari dukungan orang tua siswa, komite sekolah dan berbagai pemangku kepentingan. Meski pada awalnya sempat muncul keraguan, hasil nyata yang ditunjukkan sekolah perlahan membangun kepercayaan masyarakat terhadap sistem tersebut.

Ke depan, Samhaji berharap pemerintah dapat menjaga keberlanjutan sumber daya manusia yang telah memahami dan menguasai sistem pembelajaran kelas rangkap agar program ini dapat terus berjalan secara optimal.

“Kami berharap guru dan tenaga kependidikan yang sudah memahami serta menikmati pembelajaran kelas rangkap tidak mudah dimutasi. Jika ada pergantian personel, maka harus memulai proses pembelajaran dan adaptasi lagi dari awal,” harapnya.

Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk terus memberikan dukungan terhadap pengembangan pembelajaran kelas rangkap sebagai model pendidikan yang efektif bagi sekolah-sekolah dengan jumlah siswa terbatas.

“Kami akan terus belajar, beradaptasi dan meningkatkan kompetensi agar dapat mengantarkan generasi yang dititipkan kepada kami menjadi generasi yang unggul sesuai harapan orang tua, masyarakat dan negara,” pungkasnya.

Reporter : Sayful

Sumber Berita : Kominfo Kab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!