Tingkatkan Keterampilan Produksi Pakan Mandiri BRIN Gelar Bimtek Pembuatan Pakan Ternak Ayam

0
IMG-20260805-WA0011
Bagikan

LUMAJANG, RADARPATROLI – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar bimbingan teknis (bimtek) pembuatan pakan ternak ayam bagi peternak lokal di kabupaten Lumajang, pada hari ini. Kegiatan bertujuan meningkatkan keterampilan produksi pakan mandiri, menekan biaya budidaya, dan mendorong ketahanan pangan berbasis lokal, Rabu (05/08/2026).

Acara dibuka langsung oleh anggota DPR RI komisi X, Dr H Muhammad Nur Purnamasidi S Sos M Si (Bang Pur) dan dihadiri oleh Dr Yenny Nur Anggraeny S Pt MP dari BRIN PR Peternakan ORPP Cibinong Science Center sebagai narasumber. Dan hadir sejumlah perwakilan kelompok peternak, baik pemula maupun yang sudah berproduksi. Bang Pur memberikan sambutan sekaligus dukungan terhadap program pemberdayaan peternak skala kecil dan menengah.

Dalam sambutannya, Muhammad Nur Purnamasidi menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif BRIN yang mengintegrasikan riset dan inovasi untuk pemberdayaan ekonomi desa. “Badan Riset Dan Inovasi Nasional pada hari ini akan menyampaikan, bimtek terkait pembuatan pakan ternak ayam. Sebagaimana biasanya saya berharap acara bimtek betul-betul bisa memiliki dampak lanjutan, hari ini temanya membuat pakan ternak ayam”, ujar Bang Pur.

Harapan Bang Pur program seperti ini punya dampak lanjutan, penting untuk meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus mengurangi ketergantungan pada pakan impor. Pengetahuan itu harus menjadi ilmu, sudah tahu harus menjadi ilmu, jangan berhenti di pengetahuan. Okey saya tahu, tapi bagaimana ilmu itu menjadi sesuatu, dari ilmu itulah teman-teman bisa punya cara bagaimana pengetahuan itu mewujud menjadi sesuatu yang memiliki manfaat bagi kita maupun orang lain”, ungkapnya.

Pemerintah pusat dan daerah harus mendorong adopsi teknologi sederhana yang bisa diaplikasikan langsung oleh peternak. Narasumber dari BRIN, Dr Yenny Nur Anggraeny memaparkan metode pembuatan pakan ternak berbasis bahan lokal, formulasi nutrisi untuk ayam kampung maupun petelur, teknik pengolahan, serta aspek pengemasan dan standar keamanan pangan. Para peserta diberi kesempatan praktik langsung meracik pakan, pengujian kualitas, serta diskusi mengenai efisiensi biaya dan skema pemasaran.

“Jadi kalau bapak ibu kepingin untung banyak, harus mencari cara supaya makanannya lebih murah. Harga pakan komersial itu sekarang mahal sekali, setiap Minggu itu selalu naik 10 ribu perkarung. Kemudian sebagian pakan itu bersaing dengan manusia, contohnya sayur sayuran. Terus bagaimana meningkatkan keuntungan, ya itu tadi, menekan biaya pakan dengan pakan alternatif. Untuk meningkatkan keuntungan selain mencari pakan alternatif yaitu secara ovam, memutus rantai pasar. Jadi yang biasanya dijual secara bakul, bisa dijual secara langsung lewat sofie atau tik tok”, tambah Yenny.

Dengan kemampuan membuat pakan sendiri, margin keuntungan peternak meningkat dan rantai pasokan lebih stabil. Peserta yang mayoritas berasal dari kelompok ternak lokal dan peternak pemula, menyambut antusias. Salah satu peserta, Tri Astutik peternak asal desa Burno, kecamatan Senduro kepada awak media mengatakan, bahwa materi praktis tentang substitusi bahan pakan dan cara meningkatkan nilai gizi pakan sangat membantu mendongkrak produktivitas usahanya.

“Saya senang kegiatan ini bisa menambah ilmu, kenal sama teman-teman peternak. Saya mengawali ternak ayam Kuntara 5 ekor, dulu saya pernah ternak ayam potong waktu di Kalimantan. Sekarang ternak ayam Kuntara 5 ekor ini mau saya kembangkan, mau beli lagi. Saya mau ternak ayam Kuntara dan ayam kampung, sesuai tadi arahannya ayam kampung. Jadi arahannya tadi potensi hasil perbulannya berapa untuk skala rumah tangga, jadi kita harus produksi berapa ekor ayam untuk ibu-ibu mendapatkan hasil. Rencananya mau bikin formula yang tepat untuk pakan ternaknya”, pungkas Tri Astutik.

Dirancang sebagai bagian dari program lanjutan, yakni pendampingan teknis dan pendalaman penerapan teknologi pakan skala rumah tangga hingga usaha mikro. BRIN bersama pemerintah daerah akan memfasilitasi follow-up berupa pendampingan lapangan, uji coba skala kecil, dan akses permodalan bagi kelompok yang membutuhkan.

Dengan berakhirnya kegiatan hari ini, diharapkan terjadi peningkatan adopsi teknologi pakan mandiri di Lumajang, berkontribusi pada ketahanan pangan lokal, serta peningkatan pendapatan peternak skala kecil. (Dalin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalau Wartawan Jangan Copas Lahhhh!!!